Publik pun seperti kehilangan rasa kaget. Namun, di balik semua itu, ada hal yang tetap penting: kejujuran masih punya harga — meski sering dikalahkan oleh kebiasaan.
Mungkin benar kata orang bijak: yang paling berbahaya bukan hanya koruptor yang beraksi, tapi masyarakat yang mulai menganggapnya biasa.
KPK boleh saja terus menangkap, tapi pendidikan integritas harusnya dimulai dari hal kecil: dari sekolah, meja rapat, bahkan ruang keluarga.
Sebab korupsi tidak lahir di ruang besar, tapi tumbuh dari kompromi kecil yang dibiarkan hidup.
Baca Juga: Diskon Nataru 2025-2026, Anggaran Rp180 Miliar Siap Permudah Perjalanan dan Liburan Masyarakat
Dan setiap kali berita seperti ini muncul, semestinya bukan rasa lelah yang muncul tapi semangat baru untuk menolak “lumrah”-nya kebusukan.
Abdul Wahid kini resmi menjadi tersangka. Tapi yang seharusnya menjadi terdakwa bukan hanya individu, melainkan sistem yang membiarkan “jatah preman” menjadi bagian dari budaya birokrasi.
Kita mungkin tak bisa menangkap semua pelaku, tapi setidaknya, kita masih bisa menolak untuk ikut membenarkannya.***
Artikel Terkait
Langkah Visioner Prabowo: Modernisasi Alutsista untuk Misi Penyelamatan dan Pemadam Kebakaran Hutan
Langkah Humanis Prabowo, Siapkan Pesawat A400M untuk Misi Evakuasi Medis dan Solidaritas Dunia bagi Gaza
Info Warga Indonesia Timur! Jadwal & Harga Tiket Kapal Pelni KM Dorolonda Periode November 2025
Menkeu Purbaya: IKN Tidak Akan Jadi Kota Hantu
Wow! Katy Perry dan Justine Trudeau Resmi Berpacaran: Cinta Antara California Girl dan Politisi Pesakitan Kanada