KLIK SAJA - Generasi Z semakin akrab dengan gig economy, sebuah model kerja yang mengandalkan proyek atau kontrak jangka pendek melalui platform digital.
Bagi banyak anak muda saat ini, pekerjaan lepas bukan lagi sekadar pekerjaan sampingan, melainkan sumber penghasilan utama.
Laporan Bank Dunia tahun 2023 mencatat bahwa ada lebih dari 435 juta pekerja lepas di seluruh dunia, yang setara dengan sekitar 12,5% dari total tenaga kerja global.
Fenomena ini diperkirakan akan terus meningkat di masa depan.
Baca Juga: RRI Luncurkan Logo Baru di HUT Ke-80, Simbol Komitmen Mendukung Persatuan dan Kesejahteraan Rakyat
Direktur Utama Black Mammoth, Stoy Hall, menjelaskan bahwa situasi ini membawa peluang dan tantangan.
Meskipun pekerja lepas memiliki fleksibilitas, otonomi, dan beragam sumber penghasilan, mereka juga kehilangan hal-hal penting untuk masa depan, seperti jaminan pensiun, asuransi kesehatan, dan penghasilan yang stabil.
Generasi Z terlihat memimpin pergeseran ini.
Laporan Ogilvy menyebut pada tahun 2027, hampir separuh tenaga kerja di negara maju akan terjun dalam gig ekonomi.
Pertumbuhannya pun, disebut tiga kali lebih cepat dibanding pekerjaan konvensional.
Kendati tampak menjanjikan, pola kerja ini menuntut Gen Z untuk lebih disiplin mengatur keuangan.
Tanpa rencana matang, fleksibilitas bisa berubah menjadi kerentanan finansial.
"Pendapatan yang tidak menentu membuat anggaran sulit dijaga," demikian tertulis dalam laporan Investopedia.
Artikel Terkait
IFG Tanamkan Nilai AKHLAK Lewat Proyek Sosial, Hadirkan Empat Program Unggulan di Malang
Duka Cita KPI untuk Affan Kurniawan: Harap Proses Hukum Berjalan dan Lembaga Penyiaran Sajikan Berita Terverifikasi
Banjir Pakaian Murah dari China, Video Kiriman Baju Seharga Rp600 per Potong Hebohkan Jagat Maya
Kabar Gembira untuk Warga IKN! JNE Buka Sales Counter Resmi, Kirim Paket Kini Lebih Cepat dan Efisien
Ucap Kata ‘Tolol’ Pada Pengkritik DPR, Ahmad Sahroni Dimutasi dari Komisi III Oleh Nasdem