Aksi Demo Jilid II Di Pati Surati KPK Agar Jadikan Bupati Sudewo Sebagai Tersangka

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 25 Agustus 2025 | 13:07 WIB
Masyarakat Pati kirimkan surat ke KPK agar menangkap Bupati Sudewo (tribun)
Masyarakat Pati kirimkan surat ke KPK agar menangkap Bupati Sudewo (tribun)

KLIK SAJA - Aksi demo jilid II kembali digelar di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Senin (25/8/2025).

Pada kesempatan kali ini, strategi massa berbeda: mereka menyurati Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mendesak segera menetapkan Bupati Sudewo sebagai tersangka.

Sejak pagi, ratusan massa berjalan kaki dari posko donasi depan Kantor Bupati Pati menuju Kantor Pos Pati, berjarak sekitar 1,5 kilometer, guna mengirimkan surat aspirasi tersebut.

Di sepanjang rute, puluhan aparat berseragam dan juga polisi tanpa seragam tampak mengawal jalannya aksi.

Pada aksi sebelumnya, sempat terjadi kericuhan hingga massa melempari Bupati Sudewo dengan batu, sendal dan lainnya.

Polisi Kerahkan Ribuan Personel

Kapolresta Pati, Kombes Pol Jaka Wahyudi, menjelaskan bahwa sebanyak 1.245 personel gabungan diturunkan demi memastikan situasi tetap aman dan kondusif.

“Kami memastikan pengamanan dilakukan secara maksimal agar penyampaian aspirasi, khususnya pengiriman surat ke KPK, berjalan damai tanpa gangguan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Polri berkomitmen mengawal demokrasi dengan pendekatan persuasif. Personel negosiator juga disiapkan untuk berdialog jika terjadi dinamika di lapangan.

“Dengan cara itu, aspirasi rakyat tetap tersampaikan tanpa perlu ada gesekan,” tambahnya.

Kapolresta juga mengingatkan seluruh aparat agar tetap humanis dan tidak terpancing provokasi. Menurutnya, kehadiran polisi bukan hanya soal pengamanan, melainkan juga untuk menghadirkan rasa tenang bagi masyarakat.

Simbol Perlawanan Wong Cilik

Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Ia mencerminkan keresahan wong cilik terhadap praktik kesewenangan yang dituding dilakukan oleh para pemimpin daerah.

Bagi masyarakat kecil, bupati yang mestinya hadir sebagai pelindung justru dinilai bersikap arogan dan kurang humanis dalam menjalankan kebijakan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X