Daftar korban meninggal atau hilang akibat pembantaian ini mencakup 8.372 nama.
Hingga Juli 2012, sebanyak 6.838 korban telah berhasil diidentifikasi melalui analisis DNA dari bagian tubuh yang ditemukan di kuburan massal.
Beberapa kalangan di Serbia sempat mengklaim bahwa pembantaian ini merupakan aksi balas dendam atas serangan yang dilakukan pasukan Bosniak dari Srebrenica, yang dipimpin oleh Naser Orić, terhadap warga sipil Serbia.
Namun, klaim ini telah ditolak dan dikutuk oleh Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) dan PBB, yang menegaskan bahwa tidak ada justifikasi atas pembantaian yang terjadi.
Pada tahun 2004, majelis banding ICTY memutuskan bahwa pembunuhan massal terhadap penduduk laki-laki Srebrenica merupakan tindakan genosida.
Putusan ini dikuatkan kembali oleh Mahkamah Internasional (ICJ) pada tahun 2007. Selain pembunuhan, pemindahan paksa dan penyiksaan terhadap sekitar 25.000 hingga 30.000 perempuan, anak-anak, dan lansia Bosniak juga diakui sebagai bagian dari kejahatan genosida.
Akibat kegagalannya mencegah tragedi ini, pemerintah Belanda mengundurkan diri pada tahun 2002.
Bertahun-tahun kemudian, pengadilan tinggi Belanda dan Pengadilan Den Haag menyatakan bahwa negara Belanda bertanggung jawab atas kegagalan mencegah lebih dari 300 kematian, yakni pada tahun 2013, 2014, dan 2019.
Pada tahun 2013, Presiden Serbia saat itu, Tomislav Nikolić, menyampaikan permintaan maaf atas “kejahatan” di Srebrenica, namun menolak menyebutnya sebagai genosida.
Dalam pidatonya tahun 2005, Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan menyebut pembantaian ini sebagai “kejahatan mengerikan – yang terburuk di tanah Eropa sejak Perang Dunia Kedua”.
Dan pada Mei 2024, PBB secara resmi menetapkan tanggal 11 Juli sebagai Hari Internasional Refleksi dan Peringatan Genosida Srebrenica 1995 yang diperingati setiap tahun.
Maka dengan belajar dari kekelaman kasus di Srebenica, akankah masyarakat dunia bisa menyeret Israel ke pengadilan Internasional atas genosida yang dilakukannya pada bangsa Palestina?