Mengingat Kembali Andil Pak Harto Redam Konflik Genosida Srebrenica di Bosnia Tahun 1995

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Selasa, 15 Juli 2025 | 21:39 WIB
Pak Harto saat berkunjung ke Sarajevo (berbagai sumber)
Pak Harto saat berkunjung ke Sarajevo (berbagai sumber)

KLIK SAJA – Jika di masa kini, masyarakat dunia menganggap apa yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina adalah genosida, maka kita perlu melihat lagi kasus yang serupa di Srebrenica, Bosnia pada tahun 1995.

Pembantaian Srebrenica, yang juga dikenal sebagai genosida Srebrenica, adalah pembunuhan massal yang terjadi pada Juli 1995 terhadap lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia (Bosniak) di dalam dan sekitar kota Srebrenica, saat berlangsungnya Perang Bosnia.

Menariknya, di tengah konflik, Presiden Indonesia saat itu, Soeharto melakukan upaya solidaritas pada bangsa Bosnia.

Ia melakukan kunjungan bersejarah ke Bosnia saat perang sedang berlangsung pada tahun 1995, sebagai bentuk solidaritas dan dukungan moral kepada rakyat Bosnia yang sedang menderita akibat konflik dan genosida. 

Presiden Soeharto mengunjungi Bosnia pada tahun 1995, saat perang masih berlangsung, untuk bertemu dengan Presiden Bosnia, Alija Izetbegovic.

Kunjungan ini beresiko tinggi karena situasi perang yang masih berlangsung, namun Soeharto tetap berani melakukan perjalanan tersebut.

Walau tidak serta merta menghentikan konflik genosida yang terjadi, namun hal tersebut bentuk dukungan Negara Non-Blok melawan krisis kemanusiaan.

Hingga akhirnya terbukti dalam mahkamah Internasional, pihak Serbia disalahkan dalam konflik Genosida tersebut.

Kronologi Pembantaian

Kejahatan perang ini dilakukan terutama oleh pasukan Tentara Serbia Bosnia (VRS) dari Republika Srpska yang dipimpin oleh Ratko Mladić, dengan keterlibatan unit paramiliter Serbia, Scorpions.

Pembantaian ini menjadi genosida pertama yang diakui secara hukum di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Sebelum tragedi ini terjadi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menetapkan Srebrenica sebagai “zona aman” yang berada di bawah perlindungan internasional.

Namun, kenyataannya, kontingen 370 prajurit Belanda yang tergabung dalam Pasukan Perlindungan PBB tidak mampu mencegah jatuhnya kota tersebut ke tangan pasukan Serbia dan pembantaian yang menyusul kemudian.

Pada 13 Juli 1995, pasukan penjaga perdamaian bahkan menyerahkan sekitar 5.000 Muslim yang berlindung di markas mereka sebagai bagian dari kesepakatan untuk membebaskan 14 tentara Belanda yang ditawan Serbia Bosnia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X