KLIK SAJA - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, warga Tionghoa Kota Semarang bersama pengurus Pagoda Avalokitesvara melakukan kegiatan gotong royong membersihkan rupang (patung suci) di kompleks Vihara Watugong.
Kegiatan ini berlangsung pada beberapa hari menjelang Imlek dan menjadi salah satu tradisi rutin yang digelar untuk menyambut tahun baru.
Pembersihan dilakukan secara manual, menyisir setiap sudut pagoda, membersihkan perlengkapan ibadah, dan menyapu lantai tanpa menggunakan alat mekanis.
Fokus utama pembersihan adalah rupang Dewi Kwan She Im Pu Sah (Avalokitesvara) setinggi sekitar lima meter yang menjadi ikon spiritual di ruang utama pagoda.
Yang menarik, kegiatan ini juga melibatkan umat Katolik dari Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Semarang (BPK PKK KAS).
Kehadiran mereka menjadi simbol kerukunan lintas agama di Semarang.
Bersama-sama, umat Buddha dan Katolik saling bahu-membahu membersihkan patung dan perlengkapan sembahyang.
Aksi srawung (bersama-sama) ini menunjukkan semangat persaudaraan yang melampaui perbedaan keyakinan.
Dengan demikian, kegiatan rutin ini tidak hanya bernuansa ritual keagamaan, tetapi juga sarat nilai sosial dan budaya.
Menurut Ketua Yayasan Buddhagaya Vihara Watugong, kegiatan pembersihan menjelang Imlek memiliki makna yang mendalam.
Selain sebagai ritual persiapan spiritual, kegiatan ini merupakan momen introspeksi diri, simbol membersihkan hati dan pikiran sebelum memasuki tahun baru.
Kehadiran umat Katolik disebut menambah makna kebersamaan, sehingga bukan sekadar kegiatan fisik tetapi juga penguatan tali persaudaraan antarumat beragama.