Bahkan pada tahun sebelumnya, ia mewakili Provinsi Kalimantan Barat dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2025 di Jakarta dan berhasil meraih juara pertama.
Tak hanya berprestasi di bidang akademik, Ocha juga aktif dalam berbagai kegiatan nonakademik. Dari media sosialnya, ia diketahui menaruh minat pada olahraga taekwondo dan basket.
Di balik polemik yang terjadi dalam LCC tersebut, keberanian Ocha mempertahankan kebenaran justru membawa apresiasi besar.
Ia dikabarkan mendapat tawaran beasiswa kuliah S1 ke Tiongkok. Selain itu, Anggota Komisi II DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda juga memberikan garansi tawaran kerja di perusahaan multinasional untuk dirinya.
Baca Juga: Mengenal Suster Yustina Asal NTT, Biarawati Lulusan Perguruan Tinggi Nahdalatul Utama di Surabaya
Kisah Josepha Alexandra bukan sekadar tentang perdebatan jawaban dalam sebuah lomba. Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa rasa hormat terhadap institusi tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari keberanian untuk mengakui kesalahan dan menjunjung keadilan.
Langkah Muhammad Rifqinizamy yang mendorong juri untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka menjadi upaya penting dalam memulihkan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan lomba.
Ocha telah menjalankan perannya sebagai pelajar cerdas sekaligus warga negara yang berani bersuara.
Kini, tugas masyarakat dan negara adalah memastikan keberanian seperti ini tidak padam oleh sistem yang kaku. Sebab, “Josepha-Josepha” lain perlu dijaga agar mereka tidak berhenti berbicara hanya karena merasa suaranya tidak akan pernah didengar.***