Tidak jarang, hal ini berujung pada Silariang, yaitu kawin lari dalam istilah Bugis.
Tindakan Silariang dianggap sebagai aib besar dan bisa menyebabkan pelakunya diasingkan oleh keluarga.
Meski demikian, dalam praktik modern, banyak keluarga yang kini menyesuaikan jumlah Uang Panai dengan kemampuan pihak laki-laki, agar tidak memberatkan dan tetap menjaga esensi tradisi.
Uang Panai: Antara Tradisi dan Gengsi
Sayangnya, di era sekarang, Uang Panai sering dijadikan ajang gengsi antar keluarga, sehingga tujuan utamanya sebagai simbol penghormatan dan kesungguhan kadang terlupakan.
Padahal, makna sejati tradisi ini adalah sebagai bentuk simbol penghargaan dan komitmen seorang pria terhadap wanita yang ingin dinikahinya.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Metatah, Upacara Adat Potong Gigi Masyarakat Hindu Bali
Menariknya, perihal ini sampai di-filmkan di layar lebar, sebagai bentuk sindiran.
Selain itu, besarnya Uang Panai juga dipercaya dapat menjadi pengingat bagi kedua mempelai untuk menjaga keutuhan rumah tangga, karena perjuangan yang besar di awal diharapkan sebanding dengan keseriusan mereka dalam membina kehidupan bersama.
Pergeseran makna Uang Panai sudah lama menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Bugis.
Mulanya hanya sebagai simbol kesanggupan dari pihak pengantin laki-laki, kini berubah sebagi bentuk adu gengsi.
Diharapkan perlu ada pelurusan makna Uang Panai sebagai bentuk penghormatan kepada pihak pengantin perempuan.***