KLIK SAJA - Di tengah arus modernisasi dan dominasi rokok pabrikan, masyarakat Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tetap mempertahankan kearifan lokal dalam bentuk rokok jontal.
Rokok ini bukan sekadar alternatif bagi perokok tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Rokok jontal dibuat dari daun lontar kering sebagai pembungkus tembakau. Proses pembuatannya cukup unik dan mencerminkan kehidupan agraris masyarakat Sumbawa yang sederhana namun sarat nilai tradisi.
Daun lontar yang dipilih dijemur terlebih dahulu selama satu hingga dua hari, tergantung kondisi cuaca.
Setelah cukup kering, daun akan dibersihkan menggunakan parang atau pisau tajam untuk menghilangkan bulu-bulu halus yang menempel di permukaan.
Daun yang telah bersih kemudian dipotong sepanjang 10–20 sentimeter dengan lebar kira-kira tiga jari.
Biasanya, satu lembar daun lontar dapat dipotong menjadi dua bagian, cukup untuk membungkus tembakau.
Proses penggulungannya pun dilakukan manual, dan untuk pengikatnya digunakan potongan kecil daun lontar atau sedikit tembakau kering yang dijumput sebagai perekat alami. Inilah yang membuat rokok jontal terasa autentik dan unik.
Dari segi rasa, rokok jontal dikenal lebih keras dan tajam dibandingkan rokok pabrikan. Aroma daun lontar sangat khas dan kuat, terasa sampai ke tenggorokan (orang Sumbawa menyebutnya "kelisang").
Oleh karena itu, rokok ini biasanya hanya cocok bagi mereka yang sudah terbiasa merokok. Bagi yang belum terbiasa, sensasi panas atau gatal di tenggorokan akan sangat terasa saat menghisapnya.
Rokok jontal sendiri banyak digemari oleh masyarakat lokal, terutama mereka yang bekerja di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Rasanya yang kuat diyakini memberikan semangat dan kesegaran dalam menjalani aktivitas harian yang berat.
Selain itu, rokok ini juga lebih ekonomis karena dapat dibuat sendiri dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di alam sekitar.
Secara historis, keberadaan pohon lontar (Borassus flabellifer) di Pulau Sumbawa diduga berasal dari Sulawesi dan mulai tumbuh sejak tahun 1673 M, saat masa pemerintahan Raja Sumbawa dari dinasti Dewa Awan Kuning.