Pikon bisa dibilang sebagai alat musik yang cukup spesifik dan rumit. Tidak semua orang bisa memainkannya dengan mudah.
Butuh keterampilan khusus untuk mengatur getaran lidi, tarikan tali, serta resonansi mulut secara bersamaan.
Keunikan inilah yang membuat pikon menjadi alat musik yang sangat otentik dan membanggakan.
Menariknya lagi, alat musik serupa juga ditemukan dalam budaya lain, seperti bullroarer milik suku Aborigin Australia.
Meski bentuk dan prinsip bunyinya mirip, bullroarer digunakan untuk komunikasi jarak jauh, sedangkan pikon lebih untuk hiburan pribadi.
Di beberapa suku Papua lain, pikon dikenal dengan nama berbeda: Goknggaik di kalangan Suku Walak, dan Longge di kalangan Suku Lani.
Kini, meskipun banyak alat musik modern bermunculan, pikon tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Papua.
Alat musik ini bukan hanya pengusir penat, tapi juga sebuah simbol keakraban manusia dengan alam sekitarnya.
Pikon membuktikan bahwa kesederhanaan bisa melahirkan kebahagiaan kecil yang tak ternilai.***