KLIK SAJA - Jika Anda pernah menikmati pagi yang damai di Ubud, Bali, dan mendengar alunan lembut musik bambu yang mengalun di kejauhan, kemungkinan besar Anda tengah mendengarkan suara rindik.
Alat musik tradisional ini terbuat dari bambu dan memiliki suara merdu yang menenangkan, mirip kolintang namun lebih lembut dan membuai.
Suara rindik bukan sekadar hiburan; ia adalah napas dari kekayaan budaya Bali yang sarat nilai spiritual dan estetika.
Rindik terdiri dari deretan tabung bambu yang disusun horizontal dan berjenjang dari nada rendah ke tinggi. Biasanya terdapat 11 hingga 13 batang bambu dalam satu set.
Masing-masing batang menghasilkan nada berbeda tergantung panjang dan diameternya—semakin kecil batang, semakin tinggi nadanya.
Tabung-tabung ini disusun di atas bingkai kayu atau bambu, yang juga berfungsi sebagai resonator suara.
Bahan dasar rindik adalah bambu pilihan yang telah melewati proses seleksi ketat berdasarkan usia dan kepadatan.
Setelah dikeringkan dan diproses, bambu kemudian dipotong dan dibentuk sesuai nada yang diinginkan.
Banyak rindik dihias dengan ukiran tangan bermotif bunga, binatang, hingga tokoh mitologi Bali seperti Barong dan Rangda.
Hiasan ini bukan sekadar estetika, tetapi juga simbol spiritual yang memperkuat keterkaitan rindik dengan nilai-nilai Bali.
Rindik dimainkan dengan dua bilah pemukul bambu yang disebut talu. Pemain akan memukul tabung-tabung bambu secara bergantian dengan kedua tangan untuk menghasilkan melodi yang harmonis.
Para pemain rindik yang mahir bahkan bisa menciptakan nada kompleks yang memukau dalam tempo cepat.
Banyak musisi dunia yang mengakui kehebatan karya musik dari Rindik Bali jika dimainkan dalam tempo cepat.
Musisi nasional legendaris seperti Guruh Soekarno Putra sendiri banyak menggunakan elemen Rindik Bali dalam album masterpiece miliknya, ‘Guruh Gipsy’.