Mengenal Sumpit Dayak, Senjata Tradisional Khas Kalimantan, Ditakuti Penjajah Belanda

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 21 April 2025 | 14:17 WIB
Acara Festival Sumpit Dayak (Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)
Acara Festival Sumpit Dayak (Perpustakaan Digital Budaya Indonesia)

KLIK SAJA - Sumpit bukan sekadar alat berburu tradisional, melainkan juga simbol budaya dan perlawanan yang kuat dari masyarakat Dayak di pedalaman Kalimantan.

Senjata unik ini ternyata telah ada jauh sebelum kedatangan penjajah, dan keberadaannya diakui sebagai bagian penting dari identitas etnis Dayak yang kaya akan warisan leluhur.

Sumpit berbentuk seperti tabung panjang—biasanya sepanjang 1 hingga 3 meter—yang digunakan untuk melontarkan anak panah kecil (disebut damek) menggunakan tiupan udara dari mulut.

Bilah sumpit umumnya dibuat dari kayu pelawi, sementara damek dibuat dari bambu dan dirancang khusus dengan bagian pangkal yang lebih lebar agar dapat meluncur dengan mudah dan presisi.

Tak hanya itu, ujung sumpit Dayak juga dilengkapi dengan mata tombak, menjadikannya multifungsi: ketika anak panah habis, sumpit tetap bisa digunakan untuk menusuk musuh atau binatang buruan.

Dalam keseharian, sumpit menjadi senjata wajib bagi masyarakat Dayak saat berburu di hutan.

Anak panah disimpan dalam tabung bambu tertutup yang diselipkan pada sabuk melalui dahan pohon sebagai pengikat. Satu tabung bisa memuat hingga puluhan damek.

Namun, daya tarik sumpit bukan hanya pada fungsinya sebagai alat berburu. Pada masa penjajahan Belanda, sumpit menjadi senjata yang sangat ditakuti.

Berbeda dari senjata api yang bising, sumpit bekerja secara senyap namun mematikan, layaknya sniper penembak jitu.

Salah satu pahlawan suku Dayak asal Kalimantan Barat, yaitu Pangsuma, dikenal sosok yang mahir gunakan senjata Sumpit saat melawan penjajah Belanda

Hal yang paling ditakuti penjajah Belanda adalah racun yang dilumaskan pada damek.

Racun ini diambil dari getah pohon hutan yang sangat mematikan dan, menurut para tetua adat Dayak, hingga kini belum ditemukan penawarnya.

Pembuatan sumpit dulunya membutuhkan keahlian tinggi karena proses melubangi batang pohon dilakukan manual dengan pisau.

Kini, teknologi bor telah mempermudah proses tersebut, meskipun nilai tradisionalnya tetap dijaga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X