Menyibak Kain Tenun Sambas, Terkenal Motifnya Rumit , Mewah dan Berkelas Khas Melayu

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 21 April 2025 | 00:11 WIB
kain tenun sambas terkenal memiliki motif rumit dan mewah khas melayu (pinterest)
kain tenun sambas terkenal memiliki motif rumit dan mewah khas melayu (pinterest)

KLIK SAJA - Kain tenun Sambas adalah salah satu warisan budaya Nusantara yang memancarkan kemewahan sekaligus ketekunan dalam setiap helainya.

Dikenal berasal dari wilayah Sambas, Kalimantan Barat, kain ini merupakan mahakarya masyarakat Melayu yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga kaya nilai sejarah dan budaya.

Maka tak heran jika pada tahun 2010, kain tenun Sambas resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Salah satu daya tarik utama kain tenun Sambas terletak pada motifnya yang rumit dan berkelas.

Coraknya khas Melayu, dengan balutan benang emas dan perak yang membuatnya tampak berkilau dan mewah.

Dan tak jarang kain ini juga disebut sebagai kain benang emas oleh masyarakat Melayu.

Sejak masa Kesultanan Sambas yang didirikan Sultan Sulaiman pada tahun 1675, kain tenun ini telah digunakan dalam upacara-upacara adat, terutama pernikahan, dan diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

proses pembuatan kain tenun sambas
proses pembuatan kain tenun sambas (indonesia kaya)

Proses Produksi: Rumit dan Penuh Ketelatenan

Pembuatan kain tenun Sambas bukanlah proses instan. Dari menyiapkan benang, menggulung, hingga menenun, semuanya dilakukan secara manual menggunakan alat-alat tradisional seperti gedongen, longsen, tagiani, dan balok pase.

Proses awal seperti menarrau dan mengani adalah tahap penting sebelum benang benar-benar siap ditenun.

Teknik tenun yang digunakan bervariasi, mulai dari tenun polos, satin, hingga kepar, dengan pola silang-silang antara benang lungsin dan pakan.

Semakin rumit motif yang dibuat, semakin tinggi pula harga jual kainnya. Butuh waktu sekitar satu bulan untuk menghasilkan kain sepanjang dua meter.

Di satu rumah perajin, hanya dua hingga tiga lembar kain yang bisa dihasilkan tiap bulan, karena seluruh proses masih menggunakan alat tradisional.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X