KLIK SAJA - Donald Trump mengatakan dia memerintahkan serangan udara militer terhadap seorang perencana serangan senior dan orang lain dari kelompok Negara Islam (IS) di Somalia.
"Para pembunuh ini, yang kami temukan bersembunyi di gua-gua, mengancam Amerika Serikat dan Sekutu kami," tulis Trump di media sosial.
Dalam sebuah posting di X, kantor presiden Somalia mengatakan mereka telah diberitahu tentang serangan AS yang menargetkan pimpinan senior ISIS di bagian utara negara itu.
Trump tidak menyebutkan nama siapa saja yang menjadi sasaran serangan.
Baca Juga: Keras dan Tegas! Donald Trump Hapus Data Medis Kaum LGBT di AS
Presiden mengakhiri postingannya dengan: "Pesan untuk ISIS dan semua pihak lain yang akan menyerang warga Amerika adalah "KAMI AKAN MENEMUKAN ANDA, DAN KAMI AKAN MEMBUNUH ANDA!"
Dalam sebuah posting di X, kantor Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud mengatakan dia "mengakui dukungan teguh Amerika Serikat dalam perang melawan terorisme internasional dan menyambut komitmen berkelanjutan di bawah kepemimpinan tegas Presiden Donald Trump".
Tulisan itu juga mengatakan operasi terbaru ini "memperkuat kemitraan keamanan yang kuat antara Somalia dan Amerika Serikat dalam memerangi ancaman ekstremis".
Dalam sebuah pernyataan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan "penilaian awal kami adalah bahwa beberapa anggota pasukan tewas dalam serangan udara dan tidak ada warga sipil yang terluka".
Hegseth mengatakan serangan itu "semakin melemahkan" kemampuan ISIS "untuk merencanakan dan melancarkan serangan teroris" dan "mengirimkan sinyal yang jelas bahwa Amerika Serikat selalu siap untuk menemukan dan melenyapkan teroris".
Ia mengatakan serangan itu dilakukan di pegunungan Golis, di timur laut Somalia.
Baca Juga: Menyibak Pesan Potret Resmi 'First Lady' Melania Trump
Pemerintah Puntland, wilayah di timur laut Somalia, mengucapkan terima kasih kepada "teman-teman internasional" yang berpartisipasi dalam serangan udara yang "membunuh anggota tingkat tinggi" ISIS.
ISIS mulai menonjol di kancah internasional pada tahun 2010-an, khususnya di Suriah dan Irak, namun kini kehadirannya hanya terbatas di sebagian wilayah Afrika.