KLIK SAJA - Palestina memiliki tempat yang istimewa di hati rakyat Indonesia.
Bahkan Palestina adalah pihak pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1944—bahkan sebelum kita memproklamirkannya.
Tokoh Palestina terdepan yang membantu Indonesia meraih kemerdekaan adalah Syekh Muhammad Amin al-Husaini.
Runtuhnya Kekaisaran Usmaniah disertai dengan Perjanjian Versailles membuka jalan bagi Inggris dan Prancis untuk menguasai sebagian wilayah Timur Tengah melalui sistem mandat, yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai bentuk lain dari kolonialisme.
Sehingga dalam sistem ini, Inggris yang menguasai Palestina dan pada tahun 1917 mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menjanjikan pembentukan tanah air nasional bagi orang Yahudi di Palestina.
Prinsip hak menentukan nasib sendiri yang dikampanyekan Liga Bangsa-Bangsa tidak diterapkan, karena mayoritas penduduk Palestina menolak Zionisme dan pembentukan negara Yahudi.
Namun sebaliknya, Inggris menjalankan kebijakan membolehkan migrasi orang Yahudi dan Zionis ke Palestina untuk tujuan mendirikan negara Yahudi. Faktor-faktor inilah yang akhirnya memicu radikalisasi di dunia Arab.
Salah satu tokoh kunci dukungan Arab bagi kemerdekaan Indonesia adalah Muhammad Amin al-Husaini, Mufti Besar Palestina sekaligus Pemimpin Tertinggi Dewan Palestina.
Sebagai Mufti Besar, ia dikenal peduli pada Indonesia, bahkan memberikan bantuan sebesar dua pound sterling per orang bagi pelajar Indonesia yang belajar di Kairo, Damaskus, Beirut, atau Baghdad.
Al-Husaini berasal dari keluarga Palestina terkemuka yang berpengaruh secara politik dan ekonomi.
Keluarganya aktif berupaya mencegah Inggris mengizinkan imigrasi Zionis ke Palestina tanpa persetujuan mayoritas penduduk.
Pamannya, Musa al-Husaini, berulang kali melakukan diplomasi dan lobi agar Inggris tidak membentuk negara yang kemudian dikenal sebagai Israel—namun sia-sia.
Inggris mengabaikan aspirasi mayoritas non-Yahudi di Palestina. Hal ini mendorong keluarga al-Husaini berjuang dengan cara yang lebih konfrontatif, termasuk memicu kerusuhan lewat pidato-pidato berapi-api.
Dalam kerusuhan Palestina tahun 1933, Musa al-Husaini dipukuli polisi Inggris hingga akhirnya meninggal beberapa bulan kemudian akibat luka parah.