People Pleaser alias Tidak Enakan
Sebagian karyawan lembur karena sulit menolak permintaan atasan atau rekan kerja.
Mereka merasa bersalah jika pulang tepat waktu meskipun pekerjaannya sudah selesai.
Mental "tidak enakan" mau tak mau membuat mereka rela menambah jam kerja demi menjaga hubungan interpersonal, bukan demi produktivitas kerja itu sendiri.
Alibi Mencari Uang Lembur
Ada pula karyawan yang menjadikan lembur sebagai cara untuk menambah penghasilan.
Motivasinya bukan efisiensi atau kontribusi, melainkan insentif uang lembur.
Jika ini dilakukan terus-menerus, bisa merusak budaya kerja sehat dan menciptakan lingkungan yang memaksa orang lain merasa harus melakukan hal serupa agar terlihat 'komit'.
Berpura-pura Rajin
Fenomena ini juga dikenal sebagai "presenteeism" — hadir secara fisik namun tidak sepenuhnya produktif.
Karyawan semacam ini memperpanjang jam kerja agar terlihat sibuk di mata atasan, padahal waktu kerjanya tidak efisien.
Lembur menjadi tameng untuk menutupi kurangnya produktivitas di jam kerja normal.
Jadi sobat Klik Saja, lembur tidak selalu identik dengan rajin. Justru, terlalu sering lembur bisa menjadi pertanda adanya masalah dalam manajemen waktu, sistem kerja, atau bahkan integritas karyawan itu sendiri.
Perusahaan sebaiknya menilai produktivitas bukan dari lamanya jam kerja, tapi dari kualitas dan efektivitas hasil kerja.***