Lebih lanjut, jenis makanan yang sering ditawarkan sebagai "penenang" biasanya adalah makanan yang tinggi gula, garam, atau lemak, seperti permen, cokelat, keripik, atau minuman manis.
Jika kebiasaan ini terus berlanjut, anak bisa mengembangkan preferensi terhadap makanan-makanan yang kurang sehat dan sulit untuk menerima makanan yang lebih bergizi seperti buah dan sayuran.
3. Mengabaikan Pengembangan Keterampilan Regulasi Emosi
Alasan ketiga yang sangat penting mengapa makanan bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi anak rewel adalah karena hal ini mengabaikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan keterampilan regulasi emosi yang sehat.
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dengan cara yang adaptif.
Keterampilan ini sangat penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan anak sepanjang hidupnya.
Ketika kita langsung menawarkan makanan setiap kali anak merengek, kita menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk belajar bagaimana menghadapi dan mengatasi emosi negatif mereka dengan cara yang lebih konstruktif.
Anak perlu belajar untuk mengidentifikasi apa yang mereka rasakan, mengapa mereka merasakannya, dan bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut tanpa harus selalu mengandalkan makanan.
Misalnya, jika anak merengek karena merasa frustrasi tidak bisa menyelesaikan puzzle, alih-alih memberinya makanan, kita bisa membantunya untuk mengenali perasaannya ("Kelihatannya kamu frustrasi ya?"), menawarkan dukungan ("Mau Ibu/Ayah bantu?"), atau mengarahkannya pada aktivitas lain yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
Dengan cara ini, anak belajar bahwa ada cara lain untuk mengatasi perasaan negatif selain makan.
Mereka belajar untuk mencari solusi, meminta bantuan, atau mengalihkan perhatian mereka.
Memberikan makanan setiap kali anak rewel justru bisa menghambat perkembangan keterampilan-keterampilan penting ini.
Anak mungkin tidak belajar untuk mengatasi rasa frustrasi, kekecewaan, atau kesedihan dengan cara yang sehat dan mandiri.
Akibatnya, mereka bisa menjadi lebih rentan terhadap masalah emosional di kemudian hari dan kurang mampu menghadapi tantangan hidup.
Penutup dan Kesimpulan