KLIK SAJA - Siapa di antara kita yang tidak pernah menggunakan makanan sebagai cara untuk memotivasi anak?
Mungkin kita pernah menjanjikan es krim jika mereka mau menghabiskan sayur, atau memberikan permen sebagai hadiah setelah mereka mendapatkan nilai bagus di sekolah.
Sekilas, cara ini tampak efektif dan tidak berbahaya.
Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan menggunakan makanan sebagai penghargaan ternyata bisa membawa dampak psikologis yang kurang baik bagi perkembangan anak?
Dalam artikel ini, kita akan membahas tiga dampak utama yang perlu diwaspadai oleh para orang tua.
Baca Juga: Membangun Kemandirian Emosional pada Anak: Langkah-langkah Praktis untuk Orang Tua
Yuk, kita simak bersama!
1. Menciptakan Asosiasi Negatif dengan Makanan Sehat
Salah satu dampak psikologis yang paling sering terjadi ketika kita menggunakan makanan sebagai penghargaan adalah terciptanya asosiasi negatif dengan makanan sehat.
Coba kita pikirkan, makanan apa yang biasanya kita gunakan sebagai hadiah?
Seringkali jawabannya adalah makanan-makanan yang dianggap kurang sehat namun disukai anak-anak, seperti cokelat, permen, keripik, atau minuman manis.
Ketika makanan-makanan ini selalu dikaitkan dengan pencapaian atau perilaku baik, anak secara tidak sadar akan menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa dan lebih menarik dibandingkan makanan sehat seperti buah dan sayuran.
Sebaliknya, makanan sehat yang seringkali menjadi syarat untuk mendapatkan hadiah justru bisa diasosiasikan dengan sesuatu yang membosankan atau bahkan tidak menyenangkan.
Misalnya, seorang anak yang dijanjikan es krim setelah menghabiskan brokoli mungkin akan merasa terpaksa memakan brokolinya hanya demi mendapatkan hadiah.