Ketika kamu kurang tidur, produksi hormon ghrelin (hormon yang bikin kamu merasa lapar) cenderung meningkat, sementara produksi hormon leptin (hormon yang bikin kamu merasa kenyang) justru menurun.
Akibatnya, kamu jadi lebih mudah merasa lapar dan cenderung makan lebih banyak, terutama makanan yang tinggi kalori dan tidak sehat.
Kebiasaan makan tidak sehat ini dalam jangka panjang bisa menyebabkan kenaikan berat badan dan obesitas, yang merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2.
Selain itu, kurang tidur juga dapat mempengaruhi hormon kortisol, yaitu hormon stres.
Kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama dapat mengganggu kerja insulin, hormon yang bertugas membawa gula dari darah ke dalam sel-sel tubuh untuk dijadikan energi.
Gangguan pada kerja insulin ini bisa menyebabkan resistensi insulin, suatu kondisi di mana sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, sehingga kadar gula darah meningkat dan meningkatkan risiko diabetes.
Jadi, begadang bukan cuma bikin kamu ngantuk di siang hari, tapi juga bisa mengacaukan hormon-hormon penting yang menjaga keseimbangan tubuhmu.
2. Dampak Negatif #2: Meningkatkan Resistensi Insulin dan Risiko Diabetes Tipe 2
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, begadang dan kurang tidur kronis dapat berkontribusi pada terjadinya resistensi insulin.
Ketika kamu tidak mendapatkan tidur yang cukup, tubuhmu menjadi lebih sulit untuk memproses glukosa dengan efektif.
Sel-sel tubuhmu menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin tidak dapat bekerja dengan baik untuk menurunkan kadar gula darah.
Akibatnya, pankreas harus bekerja lebih keras untuk memproduksi lebih banyak insulin guna mengatasi kadar gula darah yang tinggi.
Lama-kelamaan, pankreas bisa kewalahan dan tidak mampu lagi memproduksi insulin yang cukup, yang akhirnya dapat menyebabkan diabetes tipe 2.
Berbagai penelitian telah menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara durasi tidur yang pendek dan peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Orang yang secara teratur tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit ini dibandingkan dengan mereka yang tidur 7-8 jam per malam.