lifestyle

Psikologi di Balik Prokrastinasi: Mengapa Kita Sering Menunda Tugas?

Sabtu, 21 Juni 2025 | 10:55 WIB
Psikologi di Balik Prokrastinasi: Mengapa Kita Sering Menunda Tugas? (Dibuat oleh Vicky Hayden Alzaini dengan menggunakan Meta AI)

Prokrastinasi dalam hal ini berfungsi sebagai mekanisme mood repair atau perbaikan suasana hati.

Dengan menunda tugas yang tidak menyenangkan, kita memberikan diri kita kelegaan sesaat dan memilih untuk melakukan hal lain yang terasa lebih menyenangkan atau memberikan kepuasan instan.

Misalnya, alih-alih mengerjakan laporan yang membosankan, kita mungkin memilih untuk menonton video lucu di internet atau memeriksa media sosial.

Aktivitas-aktivitas ini memberikan kita rasa senang atau hiburan sesaat, sehingga kita merasa lebih baik dalam jangka pendek.

Namun, perlu disadari bahwa kelegaan ini bersifat sementara dan prokrastinasi hanya menunda munculnya kembali emosi negatif yang terkait dengan tugas tersebut, bahkan mungkin memperburuknya karena tekanan tenggat waktu yang semakin dekat.

Kesulitan dalam mengelola emosi negatif ini seringkali terkait dengan kurangnya keterampilan regulasi emosi.

Kita mungkin tidak tahu bagaimana cara menghadapi perasaan tidak nyaman atau cemas yang muncul saat mengerjakan tugas yang menantang.

Oleh karena itu, belajar untuk mengenali dan mengelola emosi negatif secara efektif adalah kunci untuk mengatasi prokrastinasi yang didorong oleh faktor ini.

3. Kecenderungan untuk Lebih Memprioritaskan Kepuasan Instan (Present Bias)

Faktor psikologis lain yang berperan penting dalam prokrastinasi adalah kecenderungan kita untuk lebih memprioritaskan kepuasan instan daripada hadiah atau manfaat jangka panjang.

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai present bias atau bias saat ini.

Otak kita secara alami cenderung lebih menghargai imbalan yang bisa kita dapatkan saat ini daripada imbalan yang baru akan kita peroleh di masa depan.

Ketika kita dihadapkan pada pilihan antara mengerjakan tugas yang mungkin terasa sulit atau tidak menyenangkan namun memiliki manfaat jangka panjang (misalnya, menyelesaikan proyek kuliah agar mendapatkan nilai bagus), dengan melakukan aktivitas yang memberikan kesenangan instan (misalnya, bermain game atau scroll media sosial), seringkali kita akan memilih opsi yang kedua.

Kepuasan instan terasa lebih menarik dan lebih nyata bagi otak kita dibandingkan dengan manfaat jangka panjang yang masih abstrak dan jauh di masa depan.

Inilah mengapa kita seringkali menunda-nunda tugas-tugas penting demi melakukan hal-hal yang terasa lebih menyenangkan saat ini.

Halaman:

Tags

Terkini