Misalnya, anak balita yang sedang senang memanjat mungkin akan memilih mainan seperti perosotan kecil atau struktur panjatan.
Anak usia prasekolah yang sedang suka 'menulis' mungkin akan memilih papan tulis mainan atau buku aktivitas.
Pilihan mereka bisa menjadi sinyal bagi kita tentang apa yang sedang mereka butuhkan atau minati untuk dipelajari saat itu.
Ini memungkinkan terjadinya learning through play yang sangat natural dan efektif, karena berangkat dari ketertarikan internal anak.
Kebebasan ini memberi anak kesempatan untuk 'mengatur' sendiri pembelajarannya melalui mainan yang ia rasa paling relevan baginya saat itu.
Namun, sisi negatifnya juga cukup krusial untuk diperhatikan.
Anak-anak, terutama di usia dini, belum memiliki pemahaman komprehensif tentang kebutuhan perkembangan mereka sendiri.
Mereka memilih berdasarkan 'ingin', bukan berdasarkan 'butuh' dari sudut pandang perkembangan jangka panjang.
Akibatnya, jika hanya mengandalkan pilihan anak semata, bisa terjadi kesenjangan dalam stimulasi yang mereka dapatkan.
Misalnya, anak mungkin sangat suka mainan elektronik atau gadget, dan kalau dibebaskan memilih, ia hanya akan memilih itu.
Padahal, ia juga butuh stimulasi motorik kasar (lari, lompat), motorik halus (meronce, menggunting), kemampuan sosial-emosional (bermain peran, main bersama teman), dan problem solving (puzzle, balok).
Jika pilihan mainannya tidak mencakup area-area ini, perkembangannya bisa jadi kurang optimal di beberapa aspek.
Pengaruh iklan dan tren pasar juga sangat kuat di sini.
Anak mungkin 'merasa' butuh mainan terbaru yang sedang hits, padahal mainan itu mungkin kurang memberikan stimulasi yang ia butuhkan dibandingkan mainan lain yang lebih sederhana tapi lebih open-ended.
Pengaruh mainan terhadap anak tidak hanya soal kesenangan sesaat, tapi juga dampaknya bagi pembentukan skill dan pemahaman mereka.