Jika anak diberi kebebasan mutlak, ada kemungkinan mereka hanya akan memilih jenis mainan yang itu-itu saja, yang sudah familiar dan terasa nyaman bagi mereka.
Misalnya, anak perempuan mungkin hanya mau memilih boneka atau mainan masak-masakan terus-menerus.
Anak laki-laki mungkin hanya mau mobil-mobilan atau robot-robotan.
Meskipun tidak ada yang salah dengan mainan tersebut, jika pilihan selalu jatuh pada jenis yang sama, anak bisa kehilangan kesempatan untuk mencoba jenis permainan lain yang mungkin juga bermanfaat untuk perkembangannya.
Mereka bisa jadi enggan mencoba mainan yang lebih menantang, seperti puzzle yang mengasah logika, balok konstruksi yang melatih spasial, atau alat seni yang merangsang kreativitas, hanya karena itu di luar 'zona nyaman' pilihan mereka.
Ini juga bisa secara tidak sengaja memperkuat stereotip gender dalam bermain jika tidak ada arahan atau variasi yang ditawarkan.
Potensi lainnya adalah, pilihan yang didasari keinginan sesaat atau ikut-ikutan teman bisa jadi membuat anak cepat bosan setelah mainan didapatkan.
Ekspektasi tinggi saat memilih tidak sesuai dengan realita saat bermain, akhirnya mainan hanya teronggok begitu saja.
Sayang kan?
Jadi, dampak kedua ini menunjukkan dilema antara membiarkan anak fokus pada minatnya (yang meningkatkan engagement) versus mendorong mereka keluar dari zona nyaman untuk eksplorasi yang lebih luas.
Kebebasan memilih bisa meningkatkan kedalaman bermain, tapi tanpa variasi, bisa mengurangi keluasan pengalaman bermain yang penting untuk stimulasi perkembangan yang menyeluruh.
Lagi-lagi, peran orang tua untuk 'menyenggol' atau mengenalkan variasi jadi penting.
3. Kesesuaian dengan Minat Pribadi vs. Kesenjangan Kebutuhan Perkembangan
Dampak ketiga menyangkut hubungan antara pilihan mainan anak dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka secara keseluruhan.
Sisi positifnya, ketika anak memilih mainan berdasarkan minat otentik mereka, ada kemungkinan besar mainan itu memang sedang sesuai dengan tahap perkembangan atau area yang sedang ingin mereka kuasai.