Kondisi ini disebut dengan resistensi insulin.
Akibatnya, pankreas harus memproduksi lebih banyak insulin untuk mencoba menurunkan kadar gula darah.
Jika resistensi insulin berlangsung dalam jangka panjang, pankreas bisa kewalahan dan kadar gula darah akan terus meningkat, yang pada akhirnya bisa berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang secara teratur tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki risiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin dan masalah gula darah lainnya.
Sebaliknya, tidur yang cukup dan berkualitas membantu menjaga sensitivitas insulin tetap optimal, sehingga tubuh dapat menggunakan glukosa dengan lebih efektif dan kadar gula darah tetap terkontrol.
Ini adalah salah satu alasan mengapa tidur berkualitas dan gula darah memiliki hubungan yang sangat erat.
2. Mengatur Hormon yang Berperan dalam Nafsu Makan dan Metabolisme Glukosa
Peran kedua tidur berkualitas dalam menjaga kadar gula darah yang sehat adalah kemampuannya untuk mengatur hormon-hormon yang berperan penting dalam nafsu makan dan metabolisme glukosa.
Dua hormon utama yang terpengaruh oleh tidur adalah ghrelin dan leptin.
Ghrelin adalah hormon yang merangsang nafsu makan, sedangkan leptin adalah hormon yang memberikan sinyal kenyang ke otak.
Ketika kita kurang tidur, kadar ghrelin cenderung meningkat, membuat kita merasa lebih lapar dan memiliki keinginan untuk makan lebih banyak, terutama makanan yang tinggi kalori dan gula.
Di sisi lain, kadar leptin cenderung menurun, sehingga kita tidak merasa kenyang meskipun sudah makan cukup.
Ketidakseimbangan hormon ini bisa menyebabkan kita mengonsumsi lebih banyak kalori dan gula, yang pada akhirnya akan meningkatkan kadar gula darah.
Selain ghrelin dan leptin, tidur juga mempengaruhi hormon kortisol, yaitu hormon stres.
Kurang tidur dapat meningkatkan kadar kortisol, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kadar gula darah karena kortisol memicu pelepasan glukosa dari hati.