Anakmu menjawab dengan nada lesu, "Aku tadi diejek sama teman-teman di sekolah."
Penerapan Active Listening:
Alih-alih langsung memberikan nasihat seperti, "Sudah, jangan dengarkan mereka," atau "Kamu harusnya melawan," cobalah untuk menerapkan teknik aktif mendengarkan.
-
Berikan Perhatian Penuh: Hentikan sejenak apa pun yang sedang kamu lakukan, tatap mata anakmu, dan tunjukkan bahwa kamu siap mendengarkan. Duduklah di dekatnya atau berjongkok agar sejajar dengan tingginya.
-
Refleksikan Perasaan Anak: Ucapkan kalimat yang menunjukkan bahwa kamu memahami perasaannya. Misalnya, "Oh, kamu merasa sedih dan mungkin sedikit marah ya karena diejek teman-teman?"
-
Ajukan Pertanyaan Terbuka: Dorong anak untuk bercerita lebih lanjut dengan pertanyaan yang tidak mengarahkan. Contohnya, "Apa yang mereka katakan?" atau "Bagaimana perasaanmu saat itu?"
-
Validasi Emosi Anak: Akui dan terima perasaan anakmu, meskipun kamu mungkin merasa masalahnya tidak terlalu besar. Katakan, "Itu pasti tidak enak ya rasanya diejek seperti itu."
-
Dengarkan Tanpa Menghakimi: Hindari menyela, mengkritik, atau memberikan penilaian terhadap apa yang anakmu ceritakan. Biarkan mereka mengungkapkan semuanya tanpa merasa takut dihakimi.
-
Tawarkan Dukungan: Setelah anak selesai bercerita, tanyakan apa yang bisa kamu lakukan untuk membantunya. Misalnya, "Apa yang bisa Ayah/Ibu lakukan supaya kamu merasa lebih baik?"
Dalam situasi ini, pentingnya mendengarkan anak secara aktif adalah untuk membuat mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung.
Solusi mungkin akan muncul kemudian, tetapi yang terpenting adalah anak merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.
2. Saat Anak Bersemangat Menceritakan Pengalaman atau Kegembiraan
Active listening tidak hanya penting saat anak sedang sedih atau bermasalah, tetapi juga saat mereka ingin berbagi pengalaman positif atau kegembiraan.
Dalam situasi ini, mendengarkan aktif menunjukkan bahwa kamu tertarik dan turut berbahagia dengan apa yang mereka rasakan.
Contoh Situasi: