Seperti yang telah disinggung sebelumnya, kesepian dapat memicu dan memperburuk peradangan kronis dalam tubuh.
Peradangan adalah respons alami tubuh terhadap cedera atau infeksi, tetapi ketika peradangan menjadi kronis, dapat merusak jaringan dan organ tubuh dalam jangka panjang.
Peradangan kronis telah dikaitkan dengan berbagai penyakit serius, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, arthritis, penyakit Alzheimer, dan beberapa jenis kanker.
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang merasa kesepian memiliki kadar penanda peradangan dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak merasa kesepian.
Stres kronis yang disebabkan oleh kesepian diduga menjadi salah satu pemicu utama peradangan ini.
Hormon stres dapat mengaktifkan jalur inflamasi dalam tubuh, yang jika terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan peradangan kronis.
Mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan koneksi sosial dapat membantu meredakan stres dan mengurangi peradangan dalam tubuh, sehingga berpotensi menurunkan risiko berbagai penyakit kronis.
4. Kesepian dan Pola Tidur
Kesepian juga dapat berdampak negatif pada pola tidur kita.
Orang yang merasa kesepian seringkali mengalami kesulitan tidur, tidur kurang nyenyak, atau terbangun lebih sering di malam hari.
Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat memiliki berbagai konsekuensi negatif bagi kesehatan fisik dan mental, termasuk meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan gangguan mood.
Hubungan antara kesepian dan masalah tidur bersifat dua arah.
Kesepian dapat menyebabkan stres dan kecemasan, yang pada gilirannya dapat mengganggu tidur.
Sebaliknya, kurang tidur juga dapat memperburuk perasaan kesepian dan isolasi.
Ketika kita merasa lelah dan kurang tidur, kita mungkin menjadi lebih menarik diri dari interaksi sosial dan lebih sensitif terhadap perasaan negatif.