Begitu juga dengan emosi orang lain.
Cobalah untuk memahami dan memvalidasi emosi yang dirasakan oleh orang yang kepercayaannya telah kamu rusak, atau orang yang telah merusak kepercayaanmu.
Misalnya, jika kamu adalah pihak yang mengkhianati kepercayaan, cobalah untuk memahami kemarahan dan kekecewaan pasanganmu.
Katakan, "Aku mengerti kamu marah dan kecewa padaku. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar."
Validasi emosi orang lain berarti menunjukkan empati dan pemahaman terhadap perasaan mereka, tanpa perlu menyetujui atau membenarkan tindakan mereka.
Proses mengakui dan memvalidasi emosi ini sangat penting karena menjadi langkah awal untuk membuka komunikasi yang lebih sehat dan konstruktif.
Ketika semua pihak merasa emosinya didengar dan diakui, akan lebih mudah untuk membangun jembatan komunikasi dan mulai mencari solusi untuk memulihkan kepercayaan yang rusak.
2. Komunikasikan Emosi Secara Terbuka dan Jujur, Tanpa Menyalahkan
Cara kedua untuk mengelola emosi demi memulihkan kepercayaan adalah dengan mengkomunikasikan emosi secara terbuka dan jujur, namun tetap dengan cara yang konstruktif dan tanpa menyalahkan.
Setelah mengakui dan memvalidasi emosi, penting untuk mengkomunikasikan emosi tersebut kepada orang yang terlibat.
Namun, komunikasi emosi ini harus dilakukan dengan hati-hati dan penuh kesadaran.
Tujuannya adalah untuk saling memahami perasaan masing-masing, bukan untuk saling menyalahkan atau menyerang.
Saat berkomunikasi, gunakan bahasa "aku" untuk mengungkapkan perasaanmu.
Hindari menggunakan bahasa "kamu" yang cenderung menyalahkan atau menuduh.
Misalnya, daripada mengatakan "Kamu selalu berbohong padaku!", lebih baik katakan "Aku merasa sangat sakit hati dan kecewa saat mengetahui kebohongan ini."