Tapi, yang lebih penting adalah potensi pertumbuhan dan perkembangan karir jangka panjang yang ditawarkan oleh pekerjaan baru tersebut.
Apakah pekerjaan baru ini memberikan kesempatan untuk belajar skill baru yang relevan dan in-demand di masa depan?
Apakah pekerjaan baru ini menawarkan jalur karir yang jelas dan prospek peningkatan jabatan yang menjanjikan?
Apakah perusahaan tempatmu bekerja memiliki budaya yang mendukung pertumbuhan karyawan dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan gaji dan benefit awal antara pekerjaan lama dan pekerjaan baru.
Terlalu fokus pada gaji dan benefit awal bisa membuatmu melewatkan peluang karir yang sebenarnya lebih baik dan lebih menjanjikan dalam jangka panjang.
Kamu bisa saja memilih pekerjaan baru dengan gaji awal yang lebih tinggi, tapi ternyata pekerjaan tersebut dead-end, tidak memberikan kesempatan untuk berkembang, atau bahkan membuatmu merasa stuck dan tidak bahagia dalam jangka panjang.
Sebaliknya, memilih pekerjaan baru dengan gaji awal yang sedikit lebih rendah, tapi menawarkan potensi pertumbuhan karir yang lebih besar, bisa jadi investasi terbaik untuk masa depanmu.
Dalam beberapa tahun ke depan, skill dan pengalaman yang kamu dapatkan di pekerjaan baru tersebut bisa membuka pintu peluang karir yang lebih luas dan meningkatkan value dirimu di pasar tenaga kerja.
So, saat mempertimbangkan tawaran pekerjaan baru setelah berpindah karir, jangan hanya terpaku pada gaji dan benefit awal.
Pertimbangkan juga faktor-faktor lain yang lebih penting untuk pertumbuhan karir jangka panjang, seperti peluang pengembangan diri, prospek karir, budaya perusahaan, dan kesesuaian pekerjaan dengan passion dan minatmu.
Pilihlah pekerjaan yang tidak hanya memberikan kepuasan finansial sesaat, tapi juga memberikan kepuasan karir dan kebahagiaan jangka panjang.
Penutup dan Kesimpulan
Alright, para career switcher!
Sekarang kamu sudah tahu kan 3 kesalahan yang sering banget dilakukan saat berpindah karir: kurang riset dan persiapan, mengabaikan transferable skills, dan terlalu fokus pada gaji awal.