Dalam resume, cover letter, dan saat wawancara kerja, tekankan transferable skills dan pengalaman yang relevan dengan pekerjaan baru yang kamu lamar.
Jelaskan bagaimana skill dan pengalamanmu dari karir sebelumnya bisa diaplikasikan dan memberikan nilai tambah di pekerjaan baru.
Misalnya, jika kamu berpindah dari karir di bidang pemasaran ke bidang human resources, kamu bisa menekankan skill komunikasimu yang kuat, kemampuanmu dalam membangun hubungan dengan klien (yang bisa ditransfer menjadi kemampuan membangun hubungan dengan karyawan), dan pengalamanmu dalam menganalisis data (yang bisa diaplikasikan dalam analisis data karyawan).
Dengan menonjolkan transferable skills dan pengalaman, kamu menunjukkan bahwa kamu bukan fresh graduate yang benar-benar memulai dari nol.
Kamu adalah profesional berpengalaman yang punya modal berharga untuk sukses di karir baru, meskipun bidang pekerjaannya berbeda.
Jangan biarkan rasa insecure atau keraguan membuatmu mengabaikan potensi dirimu sendiri.
Percaya diri dengan skill dan pengalaman yang kamu miliki, dan manfaatkan aset berharga ini untuk membuka pintu kesuksesan di karir barumu.
3. Terlalu Fokus pada Gaji dan Benefit Awal: Melupakan Potensi Pertumbuhan Jangka Panjang
Kesalahan ketiga yang sering menjerumuskan orang saat berpindah karir adalah terlalu fokus pada gaji dan benefit awal, tanpa mempertimbangkan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Ini nih yang namanya “silau dengan kilau sesaat” sampai lupa masa depan.
Tentu saja, gaji dan benefit itu penting dan menjadi salah satu faktor utama dalam memilih pekerjaan.
Siapa sih yang nggak mau dapat gaji besar dan fasilitas mewah di pekerjaan baru?
Tapi, terlalu terpaku pada gaji dan benefit awal saja bisa jadi kesalahan besar, terutama saat berpindah karir.
Pindah karir itu investasi jangka panjang.
Mungkin di awal-awal masa transisi, gaji dan benefit yang kamu dapatkan di pekerjaan baru nggak sebesar atau nggak semewah di pekerjaan sebelumnya.