Kalau kita terus menerus membandingkan dan mencari-cari kekurangan di kantor baru, kita jadi kehilangan kesempatan untuk menikmati hal-hal positif yang mungkin sebenarnya ada di sana.
Selain itu, terlalu sering membandingkan juga bisa bikin kita jadi terlihat negatif dan kurang respect di mata rekan kerja baru.
Mereka bisa merasa tersinggung atau tidak dihargai kalau kita terus-terusan meremehkan kantor baru dan mengagung-agungkan kantor lama.
Padahal, membangun hubungan baik dengan rekan kerja baru itu penting banget untuk kelancaran karir kita di tempat kerja yang baru.
So, gimana caranya menghindari jebakan nostalgia “kantor lama” ini?
-
Fokus pada Masa Kini dan Masa Depan: Alihkan fokus pikiran dari masa lalu ke masa kini dan masa depan. Ingat lagi alasan kenapa kamu memutuskan untuk pindah kerja. Apa tujuan karir yang ingin kamu capai di pekerjaan baru ini? Fokus pada tujuan dan kesempatan baru yang ada di depan mata, bukan terjebak dalam kenangan masa lalu.
-
Buka Diri dan Beradaptasi: Terima perbedaan yang ada di kantor baru sebagai bagian dari proses adaptasi. Setiap tempat kerja punya budaya dan cara kerja yang berbeda. Buka diri untuk belajar hal-hal baru, beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru, dan mencari sisi positif dari perbedaan tersebut.
-
Hentikan Kebiasaan Membandingkan: Sadari setiap kali pikiran mulai membandingkan kantor baru dengan kantor lama. Segera hentikan dan alihkan perhatian ke hal lain yang lebih positif. Ingat, kantor baru adalah awal babak baru dalam karirmu. Jangan biarkan nostalgia menghalangimu untuk meraih kesuksesan di tempat kerja yang baru.
2. Berekspektasi Terlalu Tinggi di Awal Karier: Ingin Langsung “Bersinar” Tanpa Proses
Kesalahan emosional kedua yang sering menjerat para pekerja baru adalah berekspektasi terlalu tinggi di awal karir.
Banyak orang yang baru pindah kerja punya semangat membara dan ambisi yang menggebu-gebu.
Mereka ingin segera menunjukkan kemampuan terbaik, memberikan kontribusi signifikan, dan langsung “bersinar” di kantor baru.
Semangat dan ambisi itu bagus, bahkan sangat penting untuk mendorong kita meraih kesuksesan.
Tapi, ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis justru bisa jadi bumerang yang merugikan diri sendiri.
Berekspektasi untuk langsung “bersinar” di awal karir itu sama aja kayak berharap bisa langsung lari marathon setelah baru pertama kali latihan jogging.