Jika anak sudah merasa nyaman dan memiliki kepercayaan diri, mereka akan lebih mudah mengatasi bullying dengan cara yang positif.
Tidak hanya itu, anak juga akan lebih terampil dalam menyampaikan perasaan mereka, baik kepada teman-temannya maupun kepada orang dewasa yang mereka percayai, seperti orangtua atau guru.
2. Membangun Hubungan yang Sehat dengan Guru dan Orangtua Lainnya
Strategi kedua adalah membangun hubungan yang sehat dengan guru dan orangtua lainnya.
Sering kali, anak-anak yang mengalami bullying tidak ingin memberitahukan orangtua mereka karena merasa malu atau takut akan reaksi yang berlebihan.
Maka dari itu, komunikasi yang baik antara orangtua dan guru sangat penting.
Sebagai orangtua, kita perlu selalu melibatkan diri dalam kehidupan sekolah anak-anak kita. Ajak anak untuk berbicara terbuka tentang apa yang mereka alami di sekolah dan dengarkan perasaan mereka tanpa menghakimi.
Jika anak mengungkapkan bahwa mereka menjadi korban bullying, jangan langsung bereaksi dengan marah atau terlalu khawatir.
Alih-alih itu, dengarkan dengan sabar dan berikan dukungan emosional.
Setelah itu, ajak guru atau pihak sekolah untuk berdiskusi dan mencari solusi yang tepat. Guru adalah pihak yang paling sering berinteraksi dengan anak-anak, jadi mereka bisa membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua siswa.
Selain itu, terkadang ada baiknya juga untuk membangun hubungan dengan orangtua lain, terutama yang anak-anaknya juga bersekolah di tempat yang sama. Dengan saling berkomunikasi, kita bisa menciptakan ikatan yang lebih kuat dalam menangani masalah bullying ini.
3. Menumbuhkan Rasa Empati dan Kepedulian pada Anak
Strategi ketiga yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan rasa empati dan kepedulian pada anak.
Terkadang, bullying terjadi karena anak-anak belum memiliki kesadaran yang cukup tentang bagaimana perasaan orang lain ketika diperlakukan buruk.
Dengan menumbuhkan rasa empati, anak akan belajar untuk menghargai perasaan orang lain dan tidak akan mudah berperilaku kasar atau mengintimidasi.