Selain itu, kamu juga perlu mempertimbangkan durasi pengerjaan dan skill yang dibutuhkan dalam setiap layanan yang kamu tawarkan.
Semakin tinggi tingkat kesulitan atau semakin kompleks tugas yang diberikan, tentunya kamu bisa mengenakan tarif yang lebih tinggi.
Dengan mengetahui ini, kamu bisa memastikan bahwa rate card kamu sesuai dengan level pekerjaan yang akan dilakukan.
2. Menyesuaikan dengan Pasar dan Klien yang Dituju
Menentukan rate card juga nggak bisa terlepas dari siapa target klien kamu.
Klien yang berasal dari perusahaan besar dengan anggaran lebih besar tentu punya kemampuan membayar lebih tinggi daripada klien kecil atau UMKM.
Namun, sebagai freelancer pemula, mungkin kamu belum punya pengalaman kerja dengan perusahaan besar, jadi kamu harus tahu pasar mana yang lebih cocok dengan kemampuanmu.
Selain itu, kamu juga perlu melihat pesaing di bidang yang sama. Cek rate card para freelancer lain yang menawarkan layanan serupa.
Kamu bisa melihat tarif mereka melalui berbagai platform freelance seperti Upwork, Fiverr, atau LinkedIn.
Tapi, jangan cuma meniru ya. Ini hanya sebagai acuan supaya kamu punya gambaran berapa tarif yang umumnya diterima oleh freelancer dengan pengalaman serupa.
Jangan sampai rate card kamu terlalu jauh lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar. Itu bisa bikin kamu kehilangan klien yang potensial atau, di sisi lain, merugi karena harga yang terlalu rendah.
Sesuaikan tarif kamu dengan pasar dan klien yang kamu tuju agar kamu tetap kompetitif tanpa merugi.
3. Menghitung Biaya Operasional dan Waktu Kerja
Sebelum menetapkan rate card, jangan lupa untuk menghitung biaya operasional yang kamu keluarkan selama bekerja sebagai freelancer.
Biaya ini bisa meliputi biaya internet, perangkat lunak, peralatan, biaya iklan, atau bahkan biaya pelatihan untuk meningkatkan skill kamu.