Pertama, evaluasi dulu pengalaman dan keahlian yang kamu miliki. Apakah kamu sudah mengerjakan proyek-proyek besar? Apakah kamu memiliki sertifikasi atau keahlian tambahan yang membedakan kamu dari yang lain?
Jika iya, jangan ragu untuk menyesuaikan tarifmu dengan pengalaman dan skill tersebut.
Tarif yang lebih tinggi dari pemula itu wajar, apalagi jika kamu sudah punya portofolio yang kuat. Jangan takut untuk menilai diri sendiri dengan adil!
2. Mengabaikan Biaya Operasional dan Waktu yang Dihabiskan
Kesalahan kedua adalah mengabaikan biaya operasional dan waktu yang dihabiskan dalam pekerjaan.
Sering kali, freelancer hanya fokus pada harga yang mereka inginkan tanpa memperhitungkan biaya-biaya lain yang terkait dengan pekerjaan mereka.
Misalnya, kamu mungkin tidak memikirkan biaya internet, perangkat keras, perangkat lunak, atau bahkan waktu yang kamu habiskan untuk berkomunikasi dengan klien, revisi, dan persiapan lainnya.
Padahal, semua ini harus diperhitungkan dalam rate card yang kamu tentukan.
Kalau kamu hanya fokus pada harga "per jam" atau "per proyek" tanpa memperhitungkan biaya tambahan tersebut, kamu bisa saja berakhir dengan penghasilan yang jauh lebih rendah dari yang seharusnya.
Cara menghindari kesalahan ini adalah dengan menghitung semua biaya yang terlibat.
Cobalah untuk menyusun daftar semua pengeluaran yang kamu keluarkan untuk pekerjaanmu, mulai dari perangkat keras, perangkat lunak, hingga langganan alat pendukung lain yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan proyek.
Selain itu, jangan lupa untuk memperhitungkan waktu yang kamu habiskan di luar pekerjaan langsung, seperti waktu untuk riset, komunikasi dengan klien, dan lain-lain.
Setelah itu, barulah tentukan tarif yang sesuai dengan waktu dan biaya yang kamu keluarkan.
3. Tidak Menyesuaikan Tarif dengan Industri dan Pasar
Kesalahan ketiga adalah tidak menyesuaikan tarif dengan industri dan pasar tempat kamu bekerja.