KLIK SAJA - Cancel culture belakangan ini jadi bahan perbincangan yang hangat, terutama di media sosial.
Fenomena ini terjadi ketika seseorang atau kelompok dianggap melanggar norma atau nilai yang berlaku, kemudian dihadapkan pada reaksi keras dari publik.
Biasanya, mereka yang terkena dampak cancel culture akan dibanjiri komentar negatif, bahkan sampai dihapuskan dari platform atau dunia hiburan.
Cancel culture sering kali terjadi dengan cepat dan tanpa memberi kesempatan bagi orang yang bersangkutan untuk memberikan klarifikasi atau memperbaiki kesalahannya.
Begitu seseorang masuk dalam "daftar hitam" karena sebuah kesalahan, bisa jadi reputasinya akan rusak parah dalam waktu singkat.
Baca Juga: 3 Alasan Utama Mengapa Mindfulness Dapat Membantu Mengatasi Stres dari Informasi Berlebih
Hal ini menjadi masalah besar, terutama bagi orang yang terlibat langsung dalam industri hiburan atau memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Cancel culture sendiri berakar dari sosial media yang memungkinkan informasi menyebar dengan cepat.
Karena sifat media sosial yang begitu mudah diakses oleh siapa saja, komentar atau pernyataan yang dianggap kontroversial bisa dengan cepat tersebar luas dan menjadi viral.
Namun, apa sih dampak nyata dari cancel culture ini? Salah satunya adalah efeknya terhadap kesehatan mental individu yang menjadi korban.
Banyak orang yang terjebak dalam situasi cancel culture merasa cemas, stres, dan bahkan depresi karena tekanan sosial yang datang begitu besar.
Bayangkan saja, seseorang yang tidak siap dengan konsekuensi negatif ini, bisa merasa sangat terisolasi dan tertekan.
Kesehatan mental mereka bisa terganggu karena mereka merasa dihukum oleh masyarakat tanpa adanya ruang untuk membela diri atau berproses.
Selain itu, banyak yang merasa tertekan karena adanya ancaman untuk kehilangan pekerjaan, penghasilan, atau posisi sosial yang sudah susah payah mereka bangun.