Secara keseluruhan, jumlah yang mengesankan sekitar 541 juta orang diikutsertakan dalam penelitian ini, sehingga temuannya sangat dapat dipercaya.
Selain status pernikahan dan gejala depresi, beberapa informasi lain tentang relawan dianalisis, seperti jenis kelamin dan tingkat pendidikan.
Apa yang ditemukan pada penelitan tersebut? ternyata orang yang belum menikah memiliki risiko lebih tinggi terkena depresi.
Hasil penelitiannya sangat jelas: Di seluruh tujuh negara, orang yang belum menikah memiliki risiko gejala depresi yang jauh lebih tinggi daripada orang yang sudah menikah.
Menariknya, hubungan antara menikah dan depresi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda.
Baca Juga: Tips Mengendalikan Rasa Takut Saat Wawancara Kerja: Resep Anti Galau Para Fresh Graduate
Faktor-faktor tersebut meliputi negara (orang-orang di negara Barat memiliki risiko lebih besar mengalami gejala depresi saat belum menikah dibandingkan orang-orang di negara Timur).
Jenis kelamin (laki-laki memiliki risiko lebih besar mengalami gejala depresi saat belum menikah dibandingkan perempuan), dan tingkat pendidikan (orang-orang dengan tingkat pendidikan lebih tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami gejala depresi dibandingkan orang-orang dengan tingkat pendidikan lebih rendah).
Selain itu, konsumsi alkohol dan merokok diidentifikasi sebagai mekanisme potensial yang menyebabkan individu yang belum menikah menunjukkan lebih banyak gejala depresi.***