entertainment

Review Film Mary (2024), Sebuah Fiksi Pengisi Kekosongan Peristiwa di Alkitab dan Anthony Hopkins Memewahkannya

Sabtu, 14 Desember 2024 | 15:56 WIB
Poster film Mary (2024) dengan bintan Noa Cohen dan Anthony Hopkins (IMDb)

KLIK SAJA - Netflix kembali menyajikan sebuah karya yang mengangkat tokoh agama Kristen. Kali ini sosok Maria, Ibu Yesus, ditafsirkan dalam ruang kosong yang tersedia di Alkitab untuk membuat film Mary (2024).

Sutradara D.J. Caruso dibantu penulis naskah Timothy Michael Hayes dipastikan tak mudah membuat film drama berdasarkan Alitab agar bisa diterima oleh banyak kalangan.

Pihak konservatif bisa menghujat dengan serangan "tafsir yang sembrono", sementara pihak non-Kristiani yang oportunis siap mengejek dengan sinis.

Suara-suara sumbang ini bersama dengan penikmat film sejati akan membentuk sebuah wadah bernama kontroversi. Dan, mungkin itulah yang diinginkan Netflix dengan film berdurasi 1 jam 52 menit ini.

Jadi sekali lagi, jangan membandingkan karya ini dengan The Passion of Christ yang mayoritas leterlek secara Biblikal. Biarlah imajinasi yang masih dalam koridor "tidak keluar batas" dari Hayes dan D.J. Caruso bisa dinikmati dengan kacamata seni.

Baca Juga: Review Film His Three Daughters (2023), Titik Balik Komunikasi Tiga Bersaudari Jelang Kematian Sang Ayah

Karya Ilahi yang Tidak Langsung Turun atas Maria

Naskah film yang menggandeng perusahaan Aloe Entertainment, Creativity Media, dan FitzHenry Films dalam penggarapannya di Maroko ini mengambil sebuah sumber Non-Kanonik tentang keluarga Mary atau Maria.

Yoakim dan Anna menjadi pilihan nama orang tua Mary dibandingkan sumber dari Kitab Talmud maupun yang ada pada Al-Quran. 

Diceritakan bahwa Karya Ilahi Allah sudah terencana pada saat Joachim (diperankan oleh Ori Pfeffer) sedang berikhtiar naik ke atas gunung untuk meminta kehadiran seorang anak.

Malaikat Gabriel (Dudley O'Shaughnessy) akhirnya muncul dan menjanjikan bahwa Joachim dan Anna akan mempunyai anak perempuan yang kelak menjadi ibu Sang Juruselamat, Mesias.

Anna (Hilla Vidor) pun mendapatkan penampakan Malaikat Gabriel dan berjanji akan membawa putrinya kelak masuk ke Bait Allah untuk "dipersembahkan" lagi kepada Tuhan.

Tujuh belas tahun berselang, Mary (Noa Cohen) dibawa ke Bait Allah untuk dimasukkan menjadi salah satu "suster" di bawah bimbingan Imam Agung Baba ben Buta (Mehmet Kurtulus). Meski awalnya sedih, ternyata Maria menyadari memang disinilah tempatnya harus mengenal Allah.

Baca Juga: Review Film Conclave (2024), Pemilihan Paus Baru yang Penuh Intrik dan Mindblowing

Halaman:

Tags

Terkini