KLIK SAJA - Sebuah akting luar biasa dari Hugh Grant dipadukan kinerja apik dari sutradara sekaligus penulis Scott Beck dan Bryan Woods menjadi satu tontonan menegangkan dalam film Heretic (2024).
Mengambil genre horor dan thriller sebagai basicnya, nyatanya film yang rilis 8 November 2024 ini sangat konsen untuk menampilkan alternatif baru yakni psychological horror. Ya, horor yang tidak melulu berisi tentang setan ataupun pembunuhan dengan banyak darah.
Dalam genre psychological horror ini, tentu bahan yang paling pokok adalah kekayaan literasi dalam setiap kata yang disampaikan oleh karakter Mr Reed (diperankan oleh Hugh Grant) yang selain manipulatif, juga meyakinkan dari sisi informatifnya.
Tidak perlu terlalu "usang" menganggap teori konspirasi yang disampaikan karakter antagonis tersebut sebagai sebuah penistaan, karena akhirnya kita bisa belajar banyak dari The Da Vinci Code bahwa karya fiksi menjadi salah satu jembatan yang baik untuk mempertebal iman.
Film Heretic, atau dalam Bahasa Indonesia artinya "sesat", mempunyai rating R (Restricted) karena ada beberapa (tidak banyak) adegan kekerasan yang bersimbah darah.
Sebenarnya jika ingin memperluas pangsa pasar, Scott Beck dan Bryan Woods di bawah payung A24 Production bisa saja mengganti momen thriller tersebut dengan "cara membunuh" lainnya, namun agar film ini tepat pada pangsa sasaran psychological horror-nya, adegan ala Texas Chainsaw itu menjadi bumbu kecilnya.
Dengan durasi 1 jam 51 menit, film ini tergolong cepat jika menilik lagi minimnya adegan dari para tokoh yang jumlahnya sedikit. Sosok Mr Reed yang mempunyai banyak sejuta-lah yang memakan banyak waktu kita untuk menjelaskan idenya.
Iterasi untuk Menciptakan Kontrol
Film ini diawali dengan sebuah perkenalan dari dua suster Misionaris Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir atau Gereja Mormon, yakni Suster Barnes (Sophie Thatcher) dan Suster Paxton (Chloe East) yang menggunakan dialog seksual untuk menarik minat penonton.
Namun lebih dari itu, kedua sutradara tidak membangun dialog awam tersebut sebagai sebuah olok-olok, melainkan menjelaskan realitas kemanusiaan sekaligus sebagai informasi penting untuk alur cerita.
Setelah ditolak sana-sini hingga dilecehkan, kedua suster ini akhirnya menemui orang yang sudah membuat janji dengan Gereja mereka, yakni kediaman Mr Reed.
Aksi misioner ini nampaknya berubah menjadi horor, karena ternyata Mr Reed merupakan seorang yang "terlalu banyak membaca", sehingga mempertanyakan eksistensi agama dan Tuhan.