KLIK SAJA - Trilogi Venom secara umum mampu ditutup dengan baik oleh sutradara Kelly Marcel dalam payung Sony Pictures. Sebuah pengalaman dramatis bisa didapatkan pada film Venom : The Last Dance (2024) tanpa perlu embel-embel mengaku sebagai fans komik Marvel ataupun MCU.
Menilai film ini secara stand-alone bakal cukup menyenangkan. Tidak terlibat dalam adu cepat maupun adu paling mengerti seputar Marvel, memberikan pengalaman mengenal secara mendalam sosok symbiote baik hati, Venom.
Bagi pennton awam, Kelly Marcel dengan dibantu Tom Hardy dalam penulisan skripnya, memang tidak mewajibkan penonton melakukan "impuls-buying" menonton dua film sebelumnya. Cukup tonton film ini, maka penonton akan mengenal dengan jelas Venom versi Sony's Spiderman Universe.
Ada banyak kata kotor dan adegan kekerasan yang terjadi di film berdurasi 1 jam 50 menit, sehingga meskipun ada tokoh anak-anak di film ini pihak pemasar lebih suka dengan rating PG (Parental Guidance) - 13.
Baca Juga: Review Film The Children's Train (2024), Masa Kecil Violinist Tenar di Napoli Paska Perang Dunia II
Semua Berujung Pada Codex
Sosok yang paling ditunggu oleh fans langsung muncul di awal film. Ya, dia adalah Knull, sang pencipta symbiote sekaligus pedang Necrosword yang muncul di film MCU, Thor : Love and Thunder.
Monolog dari Knull menjelaskan bahwa dirinya dipenjara oleh symbiote-symbiote ciptaannya sendiri, dan hanya bisa keluar jika menemukan Codex.
Codex merujuk pada sebuah elemen dalam tubuh inang yang pernah mati, namun hidup kembali karena dimasuki oleh symbiote. Dalam hal ini Eddie Brock (diperankan oleh Tom Hardy) mempunyai Codex yang dimaksud setelah sempat mati di film sebelumya.
Codex ini hanya muncul ketika Venom mengambil alih tubuh Eddie, sehingga Codex ini bisa dideteksi oleh Knull dan ia mengutus makhluk kuat bernama Xenophage melalui portal antar dimensi.
Baca Juga: Review Film Aftermath (2024), Penyanderaan dengan Maksud yang Bias di Jembatan Tobin
The Last Dance, Jangan Mengharap Adanya Comeback
Judul film ini memang sedikit mengikuti kesuksesan The Last Dance-nya Michael Jordan, dan Kelly Marcel sangat setia terhadap pilihannya.
Sebuah tarian terakhir, benar-benar disajikan kala Venom berada di Las Vegas bersama Nyonya Chen (Peggy Lu). Pembangunan momen-momen inilah yang di akhir film nanti baru akan penonton rasakan bahwa mereka kehilangan seorang teman yang lucu, kasar, namun baik hati.
Artikel Terkait
Review Film Netflix Sosok Ketiga, Dendam Istri Pertama yang Dipoligami
Review Film The Count of Monte Cristo (2024), Sebuah Film Presisi dari Karya Alexandre Dumas
Review Film The Silent Hour (2024), Suguhan Thriller-Action Apik Tak Hanya Bagi Penyandang Tuna Rungu
Review Film Mission Imposible The Final Reckoning: Melanjutkan Kisah Ethan Hunt
Review Film Aftermath (2024), Penyanderaan dengan Maksud yang Bias di Jembatan Tobin
Review Film The Children's Train (2024), Masa Kecil Violinist Tenar di Napoli Paska Perang Dunia II