Di Jepang, negara dengan monarki tertua di dunia yang masih ada, "ada pengakuan kuat terhadap keluarga dan bisnis keluarga," ungkapnya.
Hubungan tuan-pelayan dari era samurai telah beralih menjadi hubungan antara keluarga pendiri dan karyawan mereka, dan secara historis rakyat jelata tidak pernah memperebutkan jabatan teratas.
"Hal ini juga disebabkan karena Jepang memiliki lebih sedikit pilihan eksekutif profesional," kata Profesor Dazai, peneliti etika bisnis Jepang.
"Perusahaan cenderung mencari bos berikutnya secara internal, termasuk anggota keluarga pendiri." lanjutnya.
Perombakan bisnis yang dilakukan bos baru sejauh ini membuahkan hasil, walau kenyataannya sang kakek kadang tak sependapat dengan sang cucu.
Dalam kurun waktu dua tahun sejak Tsuji yang lebih muda menjadi kepala eksekutif, Sanrio kembali memperoleh laba.
Harga sahamnya telah naik sepuluh kali lipat sejak 2020 dan perusahaan tersebut sekarang memiliki valuasi pasar saham lebih dari satu triliun yen.***