Hal ini mengakibatkan Hello Kitty kehilangan posisi karakter Sanrio yang paling populer.
Berdasarkan jajak pendapat pelanggan, posisi tersebut kini ditempati oleh Cinnamoroll - seekor anak anjing putih bermata biru dengan pipi merah muda, telinga panjang, dan ekor yang tampak seperti roti gulung kayu manis.
Sanrio tidak lagi berorientasi hanya tentang karakter lucu seperti Hello Kitty.
Jika Hello Kitty adalah duta besar Jepang untuk hal yang menggemaskan, maka panda merah pemarah Aggressive Retsuko atau disingkat Aggretsuko menggambarkan karakter rasa frustrasi seorang wanita pekerja biasa di Jepang.
Karakter yang populer di kalangan Gen Z ini pertama kali muncul dalam serial kartun di Televisi TBS Jepang sebelum menjadi hit global di Netflix.
Karakter tidak konvensional lainnya adalah Gudetama, atau "telur pemalas", yang hidup dengan depresi dan melontarkan kalimat-kalimat dingin yang menggambarkan realitas kehidupan yang gelap.
Selain mendiversifikasi karakternya, Sanrio juga meningkatkan pemasaran luar negerinya dan kini menanggulangi pemalsuan dengan lebih ketat.
"Kami sekarang menggunakan kecerdasan buatan untuk mendeteksi produk palsu dan mengajukan permintaan penghapusan," ungkap Tsuji.
Untuk strategi pemasarannya, kolaborasi dengan merek-merek besar termasuk Starbucks, Crocs, dan tim baseball LA Dodgers.
"Selain promosi kami sendiri, dengan berkolaborasi dengan merek global, kami berusaha agar karakter kami ada di pasaran sepanjang tahun tanpa banyak jeda." Ujarnya.
Baca Juga: Museum Nintendo Resmi Dibuka di di Jepang, Ada Koleksi dari Karakter Populernya Juga Lho!
Dalam masyarakat yang sangat menekankan senioritas, nama belakang Tuan Tsuji sangat penting bagi kemampuannya membuat perubahan besar di Sanrio.
Hampir seperempat perusahaan tercatat di Jepang, seperti produsen mobil Toyota dan Suzuki serta perusahaan kamera Canon, dikelola oleh anggota keluarga yang mendirikannya.
Alasannya adalah budaya, menurut Profesor Hokuto Dazai dari Universitas Perdagangan dan Bisnis Nagoya.