ekonomi

Bagaimana Strategi CEO Termuda Jepang Mengubah Branding Hello Kitty

Jumat, 1 November 2024 | 10:15 WIB
CEO Tsuji sang cucu pendiri Sanrio (Sanrio)

KLIK SAJA – Siapa yang tak kenal sosok karakter Hello Kitty asal Jepang yang menggemaskan, tanpa disadari baru-baru ini merayakan ulang tahunnya ke-50.

Karakter imut ini tak hanya tampil dalam anime, tetapi menjadi branding berbagai merchandise anak-anak seperti tumbler, kotak bekal, tas sekolah dan lainnya.

Walaupun karakter ini sukses di pasaraan, perusahaan pendirinya, Sanrio, asal Jepang ternyata bisnisnya mengalami pasang surut keuangan yang spektakuler.

Dilansir dari BBC, Hello Kitty telah menduduki peringkat kedua sebagai waralaba media terlaris di dunia setelah Pokémon, dan di depan Mickey Mouse dan Star Wars.

Baca Juga: Seru! Pelajar SD Jepang dan Indonesia Antusias Bermain Angklung dan Membatik Bersama di SRIT Tokyo

Di balik kepopuleran karakter Hello Kitty, dalam beberapa tahun terakhir Sanrio telah berjuang untuk menghasilkan uang, karena minat terhadap Hello Kitty kini memudar.

Dua lonjakan penjualan Sanrio sebelumnya, pada tahun 1999 dan 2014, keduanya didorong oleh popularitas karakter tersebut.

Namun, lonjakan permintaan terhadap produk perusahaan tersebut tidak berkelanjutan, kata Yasuki Yoshioka dari perusahaan investasi SMBC Nikko dilansir dari BBC.

"Di masa lalu, kinerjanya mengalami banyak pasang surut, seperti naik roller coaster," kata Tn. Yoshioka.

Kemudian hadirlah pada tahun 2020, Tomokuni Tsuji mewarisi peran sebagai bos Sanrio.

Ia adalah cucu pendiri perusahaan tersebut, Shintaro Tsuji, dan baru berusia 31 tahun saat itu, menjadikannya kepala eksekutif termuda di negara Jepang.

Baca Juga: Mengenal Budaya Shukatsu, Kegiatan Mahasiswa Jepang Berburu Pekerjaan

Di bawah kepemimpinan Tuan Tsuji yang lebih muda, Sanrio mengubah strategi pemasaran karakter-karakter lainnya.

"Ini bukan tentang menurunkan popularitas Hello Kitty tetapi tentang meningkatkan pengakuan orang lain," ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini