Dalam setiap simpulnya tersimpan doa, cerita, dan nilai kehidupan.
Keindahan Tape semakin terasa lewat ragam motif yang kaya makna. Setiap pola memiliki nama dan filosofi yang berakar pada sejarah serta kehidupan masyarakat Gayo Lues tempo dulu.
- Mata Pat melambangkan persatuan dan kesatuan.
- Bunge Onom merepresentasikan kepercayaan dan rukun iman.
- Jorol Lintah menggambarkan liku-liku perjalanan hidup.
- Bunge Terong melambangkan kepercayaan dan kesembuhan.
- Sesesip menjadi simbol perdamaian dan silaturahmi.
- Leladu mencerminkan kreativitas tanpa batas serta kehormatan.
- Bukit Bebaris mengungkapkan kekaguman terhadap ciptaan Tuhan, khususnya deretan bukit dan pegunungan yang menjadikan Gayo Lues dijuluki “Negeri Seribu Bukit”.
Motif-motif ini bukan sekadar ornamen. Ia adalah arsip budaya yang merekam sejarah, legenda, dan pandangan hidup masyarakat setempat. Inilah yang membuat anyaman Tape memiliki identitas khas dan berbeda dari kerajinan daerah lain.
Di tengah arus modernisasi dan pesatnya dunia digital, keberadaan anyaman Tape mulai tergerus.
Generasi muda cenderung lebih akrab dengan gawai dibandingkan duduk berlama-lama menganyam pandan.
Namun, di sejumlah kampung sekitar Blangkejeren, masih ada perempuan-perempuan tangguh yang setia menjaga tradisi ini.
Baca Juga: Kampung Seni Borobudur, Tempat Pusat Belanja Hasil Kerajinan Lembah Menoreh
Bagi mereka, anyaman bukan sekadar produk kerajinan, melainkan jejak identitas. Tape adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan.
Melalui anyaman, mereka menegaskan bahwa menjadi orang Gayo berarti mencintai budaya, menghormati alam, dan menghargai hasil kerja tangan sendiri.
Kini, berbagai komunitas mulai menghidupkan kembali tradisi ini lewat pelatihan, pameran budaya, hingga kegiatan sekolah adat.
Anak-anak muda diajak belajar menganyam, bukan hanya untuk menghasilkan benda, tetapi untuk memahami siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Anyaman Tape mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: keindahan tak harus mewah, dan tradisi tak pernah benar-benar usang.
Di balik setiap simpulnya, terjalin filosofi hidup yang seimbang, sederhana, dan penuh rasa syukur.***