HBF menyebutkan beberapa kendala perekrutan, termasuk persepsi yang buruk dan kurangnya pelatihan di sekolah, kurangnya magang, dan biaya untuk menerima pekerja magang.
Badan industri tersebut mengakui bahwa sektor itu sendiri belum "menarik" cukup banyak tenaga kerja baru dalam beberapa tahun terakhir.
Semua faktor ini dari waktu ke waktu telah mengakibatkan tenaga kerja menua, dengan seperempat pekerja berusia di atas 50 tahun.
Hal ini disebabkan para kaum muda Inggris lebih senang menekuni bidang perdagangan ketimbang menjadi tukang bangunan, walau upahnya juga tinggi.
Seorang tukang batu yang berpengalaman di Inggris dapat memperoleh penghasilan sekitar £45.000 per tahun atau setara hampir 900 juta Rupiah.
Kekurangan keterampilan telah menjadi masalah di Inggris selama beberapa waktu, tetapi kesenjangan tersebut telah tertutupi sebagian dalam beberapa dekade terakhir dengan pekerja dari Uni Eropa.
HBF mengatakan 40 hingga 50% pekerja terampil juga telah meninggalkan industri tersebut menyusul krisis keuangan 2008 dan "pembatasan" telah mempersulit perekrutan dari luar negeri.
Tn. Thomas mengatakan secara historis sektor bangunan telah merekrut sejumlah besar tukang batu dari negara-negara Uni Eropa bagian timur, sambil mengakui bahwa "jika dipikir-pikir kembali", Inggris terlalu bergantung pada pekerja luar negeri, tetapi itu merupakan "norma".
Menurut sensus industri terbaru, Rumania, India, dan Polandia adalah negara asal pekerja konstruksi dari luar negeri yang paling umum.
Lebih dari separuh tenaga kerja konstruksi London adalah warga negara Uni Eropa/EEA.
Lembaga penelitian independen Centre for Cities juga memperkirakan pembangun rumah akan kekurangan 388.000 unit dari target pemerintah sebesar 1,5 juta.
Artinya, Inggris harus memikirkan cara kembali untuk mengatasi kekurangan jumlah tenaga kerja bidang konstruksi.***