Saat acara dimulai, para perempuan yang hadir secara bergantian melumatkan daun pacar atau inai berwarna merah pada kuku-kuku calon pengantin.
Warna merah dari inai menjadi simbol kebahagiaan, keberuntungan, serta harapan akan kehidupan rumah tangga yang penuh cinta dan keberkahan.
Yang membuat prosesi ini semakin khidmat adalah lantunan zikir Kapanca yang dibacakan secara bersama-sama.
Zikir dan syair bernuansa Islam tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa agar pasangan yang akan menikah diberikan kemudahan dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol peralihan status seorang perempuan menuju kehidupan berumah tangga, tetapi juga menjadi media untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
Peta Kapanca juga mengandung pesan sosial yang kuat, terutama bagi kaum perempuan yang hadir dalam acara tersebut.
Bagi para gadis, prosesi ini menjadi pengingat bahwa pernikahan merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan yang perlu dipersiapkan dengan baik.
Sementara bagi para ibu yang memiliki anak perempuan, tradisi ini menjadi bentuk harapan agar suatu hari putri mereka dapat mengikuti jejak sang pengantin dan menemukan pasangan hidup yang baik.
Salah satu bagian menarik dalam tradisi ini adalah pembagian bunga telur kepada para ibu yang masih memiliki anak gadis.
Telur tersebut nantinya dimakan oleh sang anak, sedangkan rangkaian bunganya disimpan sebagai hiasan di kamar.
Masyarakat setempat meyakini tradisi ini sebagai simbol doa dan harapan agar sang anak kelak mendapatkan jodoh yang baik serta menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia.
Setelah prosesi pelumatan daun pacar selesai, acara dilanjutkan dengan Rawa Mbojo, yaitu nyanyian tradisional khas Bima yang berisi petuah dan nasihat kehidupan bagi calon pengantin.
Lantunan syair yang penuh makna tersebut diiringi alunan musik tradisional dan biasanya berlangsung hingga larut malam, bahkan menjelang pagi.
Suasana hangat, kekeluargaan, dan penuh doa menjadikan momen ini sebagai penutup yang indah sebelum pasangan memasuki hari pernikahan mereka.
Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan tradisi Peta Kapanca mulai berkurang di sebagian wilayah Dompu dan Bima.