edukasi

Sosok Rasuna Said Sang Orator Wanita Tangguh Penentang Kolonialisme Belanda

Sabtu, 11 April 2026 | 01:08 WIB
Rasuna Said saat memberikan orasi dalam suatu acara resmi (Dinas Kebudayaan DIY)

KLIK SAJA – Di Ibukota Jakarta, terdapat bilangan yang terkenal sebagai pusat bisnis dan perkantoran, namanya jalan Rasuna Said.

Mungkin warga Jakarta tak banyak mengetahui sosok Rasuna Said yang terkenal sebagai tokoh pejuang hak-hak perempuan serta seorang jurnalis tangguh di masa Hindia Belanda.

Rasuna Said merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang dikenal luas karena perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan sekaligus hak-hak perempuan.

Ia lahir pada 14 September 1910 di Maninjau, Sumatera Barat, dengan nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said, berasal dari keluarga bangsawan Minangkabau

Sosoknya dikenal sebagai aktivis yang berani dan vokal dalam menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Atas dedikasi dan jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1974.

Sejak kecil, Rasuna Said tumbuh dalam lingkungan keluarga Minangkabau yang menjunjung tinggi pendidikan dan memiliki semangat perjuangan.

Ketertarikannya terhadap ilmu pengetahuan dan isu sosial sudah terlihat sejak dini. Ia menempuh pendidikan di Diniyah School di Padang Panjang, sebuah sekolah Islam yang dipimpin oleh Zainuddin Labay El Yunusy.

Di sana, ia tidak hanya belajar agama, tetapi juga dididik untuk berpikir kritis terhadap ketidakadilan.

Pendidikan tersebut membentuk kesadarannya tentang pentingnya peran perempuan dalam masyarakat.

Rasuna kemudian melanjutkan pendidikannya di Sumatera Thawalib, yang juga menanamkan nilai-nilai keislaman dan nasionalisme yang kuat.

Memasuki usia dewasa, Rasuna Said aktif terlibat dalam pergerakan melawan penjajahan. Ia bergabung dengan Sarekat Rakyat, sebuah organisasi yang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan sosial.

Di organisasi ini, ia dikenal sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat perjuangan melalui pidato-pidatonya.

Pada tahun 1930-an, ia bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), sebuah organisasi politik Islam progresif.

Di sinilah Rasuna semakin dikenal sebagai juru bicara yang berani dan lantang mengkritik kebijakan diskriminatif pemerintah kolonial Belanda.

Halaman:

Tags

Terkini