edukasi

Mengenal Perkici Buru,Burung Paruh Bengkok Mini yang Terancam Punah

Minggu, 29 Maret 2026 | 12:23 WIB
Perkici Buru (Pinterest)

Adaptasi ini menjadikannya bagian penting dalam proses penyerbukan tumbuhan hutan tropis, sekaligus menunjukkan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Perkici buru hidup di berbagai tipe hutan, mulai dari hutan primer, hutan sekunder, hingga area perkebunan, dari dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.

Makanannya sangat bergantung pada musim berbunga, terutama dari tumbuhan famili Myrtaceae, serta buah-buahan lunak.

Dalam penangkaran, burung ini diketahui juga mengonsumsi pisang dan cairan bergizi.

Spesies ini bersifat nomaden lokal, berpindah-pindah mengikuti ketersediaan pakan. Hal ini membuat populasinya sulit dipetakan secara pasti.

Dalam kehidupan sehari-hari, perkici buru biasanya terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil berisi hingga sepuluh individu. Pola terbangnya lurus dan stabil, dengan kecepatan sedang.

Suaranya khas, berupa jeritan bernada tinggi dan menjadi salah satu petunjuk penting dalam identifikasi di lapangan.

Informasi mengenai reproduksi perkici buru masih sangat terbatas. Berdasarkan pola umum burung lorikeet, spesies ini diduga bertelur dua butir dengan masa pengeraman sekitar 23–25 hari.

Baca Juga: Mengenal Hooded Pitohui Asal Papua, Burung Paling Beracun di Dunia

Anak burung biasanya menjadi mandiri dalam waktu dua hingga tiga bulan. Sarangnya diperkirakan berada di lubang pohon tinggi, namun hingga kini dokumentasi lapangan terkait hal ini hampir tidak tersedia.

Keberadaan perkici buru sempat diragukan karena minimnya catatan modern. Saat ini, spesies ini dikategorikan sebagai Critically Endangered (Kritis) sejak tahun 2000, yang berarti memiliki risiko kepunahan sangat tinggi.

Di Indonesia, perlindungannya diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan diperkuat melalui Permen LHK No. P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa dilindungi.

Ancaman utama bagi kelangsungan hidupnya adalah deforestasi, penebangan hutan, dan fragmentasi habitat.

Perubahan lanskap hutan menyebabkan berkurangnya sumber nektar serta lokasi bersarang.

Minimnya data mengenai populasi dan reproduksi juga menjadi tantangan besar dalam upaya konservasi berbasis ilmiah.

Halaman:

Tags

Terkini