Turunnya hujan dianggap sebagai hasil pusaran awan ketika naga mengangkasa di langit, sekaligus menjadi simbol keseimbangan alam yang menopang kehidupan manusia.
Karena itulah, hujan juga kerap dimaknai sebagai lambang keadilan dan keharmonisan dalam perayaan Imlek.
Dalam sejumlah legenda, hujan bahkan dipercaya sebagai tanda bahwa Dewi Kwan Im sedang menyiram bunga Mei Hwa.
Bunga ini dikenal sebagai bunga keberuntungan dalam budaya Tionghoa. Kata “Mei Hwa” sendiri berarti “bunga yang cantik”, dan keberadaannya memiliki makna mendalam bagi masyarakat Tionghoa.
Gugurnya bunga dan dedaunan Mei Hwa menandai datangnya musim semi di daratan Tiongkok.
Kebetulan pada musim ini, kerap turun hujan di belahan bumi utara.
Musim ini disambut dengan sukacita karena melambangkan semangat baru, harapan baru, kehidupan baru, serta keberuntungan yang baru pula.
Tak heran jika banyak masyarakat Tionghoa meyakini bahwa pohon Mei Hwa dapat membawa harapan dan rezeki, terutama jika dipajang saat perayaan Imlek.
Oleh sebab itu, hujan yang turun saat Imlek kerap dimaknai sebagai berkah yang menyirami bunga Mei Hwa, simbol kekuatan dan keteguhan.
Bunga Mei Hwa atau bunga prem memang dikenal mampu bertahan di segala musim, sehingga menjadi perlambang ketangguhan, keberuntungan, dan harapan yang terus tumbuh sepanjang tahun.***