Para animator meyakini bahwa anak-anak cukup paham bahwa bebek pada dasarnya tidak memakai pakaian, sehingga menambahkan baju pelaut dan topi sudah cukup untuk memberi sentuhan antropomorfis tanpa membuatnya terlihat aneh.
Hal ini serupa dengan kasus tokoh animasi Winnie the Pooh yang juga tak menggunakan celana, agar terkesan menonjolkan kelucuan hewan beruang madu.
Memberinya celana justru dianggap mengganggu, tidak sesuai dengan anatomi bebek, dan dapat menciptakan kesan visual yang canggung.
Baju pelaut yang dikenakan Donald juga memiliki makna simbolis. Pada tahun 1930-an, pakaian model itu sering dipakai anak-anak dari keluarga berada sebagai busana formal.
Selain itu, bebek erat kaitannya dengan air, sehingga kostum pelaut terasa sangat pas dengan citra Donald.
Bahkan nama lengkapnya, Donald Fauntleroy Duck yang oldskool banget, terdengar seolah memang dirancang untuk menjiwai karakter flamboyan dan penuh temperamen itu.
Sejak kemunculan perdananya dalam “The Wise Little Hen” pada 9 Juni 1934—tanggal yang kemudian diakui sebagai hari lahirnya—Donald tumbuh menjadi salah satu karakter paling produktif dan paling dicintai dari Disney.
Ia memiliki suara unik yang setengah dapat dimengerti, kepribadian usil dan mudah marah yang membuatnya lucu, dan muncul dalam lebih banyak film daripada karakter Disney mana pun.
Ia bahkan masuk dalam daftar 50 karakter kartun terbaik sepanjang masa versi TV Guide dan memiliki bintang di Hollywood Walk of Fame.
Pada akhirnya, alasan mengapa Donald Duck tidak memakai celana adalah perpaduan antara kebutuhan teknis, estetika, tradisi desain, sekaligus identitas karakter yang terlanjur melekat kuat.
Mungkin kita tidak akan pernah tahu jawaban pastinya, tetapi satu hal jelas: tanpa celana pun, Donald tetap menjadi salah satu ikon animasi paling berpengaruh dan dicintai sepanjang zaman.***