Ia dikenal akrab dengan seorang saudagar Tionghoa bernama pemilik kapal Bintang Tse Cay.
Melalui hubungan persaudaraan di antara keduanya, Raden Ngabei belajar seni bertutur dari sang saudagar.
Setelah menguasainya, Raden Ngabei kemudian mengadaptasi syair-syair tersebut ke dalam bahasa Banjar dan menampilkannya di hadapan masyarakat Amuntai.
Pertunjukan ini disambut antusias, dan sejak itu, masyarakat menamakan kesenian tersebut Lamut atau Balamut.
Pertunjukan Lamut biasanya digelar pada malam hari, antara pukul 21.00 hingga 04.00 WITA, dalam berbagai acara adat seperti perkawinan, syukuran, hingga pagelaran budaya Banjar.
Namun, selain sebagai hiburan, Lamut juga memiliki fungsi spiritual dan ritual, yakni sebagai tatamba atau sarana pengobatan tradisional.
Dalam konteks ini, Lamut dipercaya mampu membantu menyembuhkan penyakit, misalnya demam yang tak kunjung reda atau kesulitan melahirkan.
Pelaksanaan Lamut tatamba biasanya disertai dengan sejumlah persyaratan adat seperti sesaji, pedupaan, beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, serta sepasang benang dan jarum.
Ritual ini dimulai dengan prosesi betapung tawar, pembacaan doa, kemudian disusul dengan pembacaan Lamut yang berisi kisah-kisah tertentu seperti Raja Bungsu atau Kasanmandi.
Selain sebagai pengobatan, Lamut juga pernah digunakan sebagai media dakwah Islam, alat komunikasi sosial, serta pendidikan moral bagi masyarakat Banjar, terutama bagi generasi muda.
Sayangnya, kini seni Lamut berada di ambang kepunahan. Satu per satu pelamutan—para maestro seni tutur Banjar—meninggal dunia tanpa sempat mewariskan ilmunya kepada generasi penerus.
Proses regenerasi pun terhenti, dan minat anak muda terhadap kesenian tradisional ini semakin berkurang.
Di sisi lain, hampir tidak ada organisasi atau lembaga budaya yang secara serius melakukan pembinaan terhadap pelamutan baru.
Akibatnya, Lamut kini hanya tersisa sebagai kenangan dalam sebagian kecil masyarakat yang masih mencintai tradisi lama.
Padahal, di balik setiap untaian syair Lamut tersimpan nilai budaya yang tinggi—tentang kearifan lokal, kebersamaan, dan keimanan.