KLIK SAJA – Kristen dikenal sebagai agama yang banyak memiliki denominasi dengan berbagai latar belakang.
Salah satu denomasi yang jarang kita kenal adalah Mormon, dimana aliran ini berkembang mulanya di Amerika Serikat.
Mormon adalah sebutan bagi kelompok agama dan budaya yang berakar pada Mormonisme, cabang utama dari Gerakan Orang-Orang Suci Zaman Akhir (Latter Day Saint Movement) yang didirikan oleh Joseph Smith di New York pada 1820-an.
Setelah Smith meninggal pada 1844, gerakan ini terpecah mengikuti sejumlah pemimpin berbeda. Mayoritas pengikut memilih Brigham Young, sementara kelompok-kelompok kecil mengikuti Joseph Smith III, Sidney Rigdon, dan James Strang.
Sebagian besar kelompok kecil tersebut akhirnya bergabung menjadi Community of Christ.
Kini, istilah Mormon umumnya merujuk pada anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (LDS Church), karena cabang ini jauh lebih besar dibandingkan semua kelompok lain yang tersisa.
Baca Juga: Bukan Muslim ataupun Imigran, Pembunuh Charlie Kirk Ternyata Seorang Penganut Mormon Asal Utah
Namun, identitas Mormon tidak selalu seragam: ada yang taat beragama, sekuler, tidak aktif beribadah, hingga berpindah ke denominasi lain.
Identitas dan Penyebutan
Sejak 2018, Gereja LDS menegaskan bahwa pengikutnya lebih tepat disebut sebagai anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir atau cukup anggota gereja, apabila konteks identitas gereja sudah jelas sebelumnya.
Istilah Mormon kini dianggap tidak pantas atau bahkan menyinggung komunitas tersebut.
Sejarah Mormon diwarnai sejumlah praktik yang sempat kontroversial. Salah satunya adalah pernikahan jamak (poligami religius) yang berlangsung sejak 1852 hingga resmi dilarang pada 1904.
Kala itu, banyak pengikut Brigham Young yang bermigrasi ke Teritori Utah dan secara terbuka mempraktikkan poligami.
Kehidupan komunitas LDS sangat berorientasi pada pelayanan. Anggota gereja mendedikasikan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk mendukung kegiatan gereja.