edukasi

Mengenal Sumbang Duo Baleh, Dua Belas Aturan Adab Wanita Minangkabau yang Bermartabat

Kamis, 11 September 2025 | 11:07 WIB
Sejak dulu wanita Minangkabau miliki peran sosial paling penting dalam komunitasnya (MAN 1 Padang Panjang)

KLIK SAJA – Jika dalam budaya Jawa, kita mengenal istilah 'Unggah Ungguh' sebagai aturan tak tertulis tentang bagaimana kita bertingkah laku, maka jika di adat Minangkabau, kita mengenal istilah 'Sumbang Duo Baleh'.

Sumbang Duo Baleh adalah salah satu kebudayaan Minangkabau yang berkembang di tengah masyarakat Sumatera Barat.

Tradisi ini berupa aturan tidak tertulis yang mengatur tingkah laku dan tata krama perempuan Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Nusantara terkenal sangat mengedepankan adab dalam berperilaku sehari-sehari, termasuk kebudayaan Minangkabau yang juga menjunjung tinggi hal ini.

Sesuai namanya, Sumbang Duo Baleh memuat 12 aturan, yaitu:

  1. Sumbang Duduak (duduk)
  2. Sumbang Tagak (berdiri)
  3. Sumbang Bajalan (berjalan)
  4. Sumbang Bakato (berkata-kata)
  5. Sumbang Mancaliak (melihat)
  6. Sumbang Makan (makan)
  7. Sumbang Bapakaian (berpakaian)
  8. Sumbang Karajo (bekerja)
  9. Sumbang Tanyo (bertanya)
  10. Sumbang Jawek (menjawab)
  11. Sumbang Bagaua (bergaul)
  12. Sumbang Kurenah (tingkah laku).

Sebagai aturan adat, Sumbang Duo Baleh memang tidak tertulis, namun pelanggarannya tetap memiliki konsekuensi berupa sanksi sosial.

Secara umum, aturan ini dianggap sangat baik untuk membentuk kepribadian perempuan dalam kehidupan sosial.

Baca Juga: Salah Kaprah Kemenyan, Tidak Selalu Identik Berbau Mistis

Namun, dalam praktiknya, sering muncul pandangan bahwa aturan tersebut membatasi ruang gerak perempuan dalam berekspresi.

Mengapa Dikhususkan untuk Perempuan?

Salah satu hal menarik adalah bahwa aturan ini hanya berlaku bagi perempuan, tidak untuk laki-laki.

Alasannya terletak pada posisi perempuan dalam adat Minangkabau yang sangat tinggi dan terhormat.

Perempuan dianggap sebagai penjaga moral, martabat, dan kunci kemuliaan sebuah peradaban.

Misalnya, pada Sumbang Bakato, perempuan dilarang berbicara dengan kata-kata kasar atau tanpa etika.

Halaman:

Tags

Terkini